Menkeu, BI & Pejabat G20 Kumpul di Bali, Ini yang Dibahas!

  • Whatsapp
Foto: Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo (Tangkapan Layar Youtube Kemenkeu)
banner 468x60

Badung – Serangkaian pelaksanaan Presidensi G20 di Bali Convention Center Nusa Dua Bali mulai berlangsung Rabu (9/12/2021).

Indonesia sebagai tuan rumah membawa berbagai topik kepada delegasi negara G20 untuk bisa mencapai perekonomian yang merata di seluruh negara.

Bacaan Lainnya
banner 300250

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, mengungkapkan dalam serangkaian Presidensi G20 di jalur keuangan yang dibahas hari ini, ada tiga hal yang berkaitan dengan kebijakan bank sentral.

Pertama, mengenai normalisasi kebijakan moneter. Menurut Perry, bagi negara maju yang akan melakukan normalisasi kebijakan moneter, perlu kebijakan yang jelas.

“Juga dampaknya kepada emerging market (negara berkembang), regulasi sektor keuangan juga dilakukan normalisasi yang juga harus hati-hati untuk dilakukan dan diwaspadai,” ujarnya dalam konferensi pers Kick Off Presidensi G20 di Jalur Keuangan, Rabu (9/12/2021).

“Penerapan aspek prudensial harus melihat kesiapan berbagai negara khususnya sektor keuangan belum merata. Itu harus dilakukan secara baik,” kata Perry melanjutkan.

Kedua, berkaitan dengan digitalisasi sistem pembayaran dan Central Bank Digital Currency (CBDC) atau dalam hal ini CBDC. Kerja sama internasional dalam digitalisasi sistem pembayaran diutamakan untuk memperlancar dan mempercepat pembiayaan yang murah.

“Arahnya kita berbagi pelajaran penting dan prinsip utama mengembangkan CBDC. Bagaimana konsepnya dan interkoneksi dan teknologi,” kata Perry melanjutkan.

Serta ketiga, mendorong inklusi keuangan dengan mengedepankan digitalisasi UMKM dan ekonomi kerakyatan.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan ada tiga tantangan yang saat ini dihadapi seluruh dunia. Pertama, masih adanya pandemi Covid-19 di dunia, yang bukan hanya mempengaruhi kondisi kesehatan, tapi juga mempengaruhi pemulihan ekonomi global.

Kedua, masalah komplek kebijakan makroekonomi, baik dari kebijakan fiskal dan moneter, di tengah peningkatan inflasi yang tinggi.

Beberapa negara sudah mulai melakukan pengetatan kebijakan moneternya. Sementara beberapa negara, masih membutuhkan kebijakan moneter longgar untuk tumbuh

“Ini tentu akan berdampak ke negara-negara berkembang,” ujarnya

Tak hanya itu, ada juga masalah terkait kesenjangan vaksinasi. Negara-negara maju sudah lebih dahulu mendapatkan vaksin daripada negara-negara berkembang dan bahkan negara-negara terbelakang. Ini bisa menimbulkan kesenjangan dalam pemulihan.

Ketiga, perubahan iklim yang menimbulkan perhatian lebih terhadap perekonomian hijau. Namun, dalam transisi ke ekonomi hijau, tentu saja seluruh dunia membutuhkan pembiayaan karena proses transisi ini tidak mudah dan tidak murah.

 

[cnbcindonesia.com]

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.