MANGUPURANEWS – DENPASAR, Konsistensi Karantina Bali dalam memperketat pengawasan lalu lintas satwa liar dan menggagalkan perdagangan ilegal burung berkicau membuahkan hasil. Upaya tegas tersebut meraih pengakuan internasional berupa penghargaan dari International Union for Conservation of Nature Species Survival Commission Asian Songbird Trade Specialist Group (IUCN SSC ASTSG).
​Penghargaan ini diberikan atas keberhasilan Karantina Bali bersama instansi lintas sektor dalam menyita ribuan burung liar ilegal di berbagai pintu masuk utama, seperti Pelabuhan Gilimanuk, Pelabuhan Padangbai, hingga jalur kargo udara dan laut.

​Kepala Balai Besar Karantina Bali, Heri Yuwono, menjelaskan bahwa posisi Bali yang strategis dengan mobilitas penumpang dan barang yang tinggi menjadikan wilayah ini sangat rentan terhadap praktik penyelundupan satwa. Oleh karena itu, pengawasan ketat tanpa kompromi terus digalakkan.

“Jajaran Karantina Bali secara konsisten mengamankan satwa burung yang dilalulintaskan tanpa dilengkapi Sertifikat Kesehatan Hewan maupun dokumen resmi lainnya,” ujar Heri melalui keterangan resminya, Minggu (30/8/2026).

​Langkah tegas ini merujuk pada amanat Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2019 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan. Selain menjaga keanekaragaman hayati dari ancaman eksploitasi berlebihan, pengetatan pengawasan di pintu masuk Bali bertujuan mencegah penyebaran Hama Penyakit Hewan Karantina (HPHK), termasuk risiko penyakit zoonosis seperti flu burung (avian influenza).

​Pihak IUCN SSC ASTSG menilai, langkah pengawasan dan penindakan yang dijalankan Karantina Bali sejalan dengan strategi konservasi global. Pengetatan di pintu keluar-masuk wilayah terbukti efektif mempersempit ruang gerak jaringan perdagangan ilegal satwa liar di Asia.
​Dalam menjalankan tugasnya, Karantina Bali terus memperkuat sinergi bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali, Kepolisian Kawasan Pelabuhan, serta instansi terkait. Satwa hasil penindakan yang masih sehat langsung dikembalikan ke habitat aslinya, salah satunya melalui kawasan konservasi Taman Nasional Bali Barat.
​Atas apresiasi skala dunia ini, Heri menegaskan bahwa penghargaan tersebut menjadi pemicu semangat bagi personel Karantina Bali untuk makin memperketat benteng pengawasan hayati di Pulau Dewata.

“Penghargaan ini menjadi dorongan bagi kami untuk terus menjaga integritas dan meningkatkan sinergi bersama seluruh pemangku kepentingan. Perlindungan satwa liar membutuhkan kerja bersama agar kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia tetap lestari,” pungkasnya.

(red-tim)