Mangupuranews – BADUNG, Pemerintah Kabupaten Badung resmi memulai proyek pelebaran Simpang Siligita di Nusa Dua, Kuta Selatan, guna mengurai sumbatan lalu lintas kronis yang membebani kawasan pariwisata internasional sekaligus akses upacara adat warga setempat.
Pengerjaan fisik difokuskan pada penataan sisi timur serta selatan area kantor PDAM. Penataan geometri simpang ini menjadi tindak lanjut cepat setelah sebelumnya dipasangi sistem lampu lalu lintas (traffic light) oleh dinas perhubungan.
Simpang Siligita selama ini dikenal sebagai titik temu krusial dengan beban ganda: gerbang pergerakan wisatawan menuju deretan resor bintang lima dan koridor harian masyarakat lokal.
Titik Temu Kepentingan Wisata dan Sakralitas Adat
Bagi masyarakat lokal di Banjar Bualu, Simpang Siligita bukan sekadar persimpangan komersial. Kawasan ini merupakan nadi utama pergerakan ritual menuju Setra Gede Desa Adat Bualu.
Penyempitan jalan di titik ini kerap menimbulkan friksi mobilitas tinggi, terutama saat iring-iringan upacara keagamaan berskala besar melintas bertepatan dengan lonjakan arus wisatawan.
Anggota DPRD Kabupaten Badung Dapil Kuta Selatan, I Wayan Sukses, mengonfirmasi bahwa realisasi proyek ini merupakan respons nyata atas keluhan menahun warga setempat.
“Kami selaku wakil rakyat Dapil Kuta Selatan mengapresiasi Pemkab Badung, utamanya Bapak Bupati dan Wakil Bupati beserta jajaran terkait, karena apa yang menjadi permasalahan kami di Nusa Dua, khususnya Desa Adat Bualu, terkait seringnya kemacetan di Simpang Siligita, astungkara tahun anggaran ini pelebaran sudah terealisasi dan sekarang sedang dikerjakan,” ujar Wayan Sukses, Kamis (24/9/2026).
Sukses menegaskan, dimensi jalan yang lebih lapang akan langsung berdampak positif pada kegiatan tradisi masyarakat.
“Saat upacara Ngaben, arus lalu lintas sangat padat dan jalannya sempit. Sekarang dengan dilebarkan, sudah barang tentu akan memperlancar aktivitas krama,” imbuhnya.
Dua faktor krusial yang ditargetkan tuntas melalui revitalisasi simpang ini meliputi:
- Kelancaran Libur Panjang: Mengeliminasi antrean panjang kendaraan saat puncak libur Natal, Tahun Baru (Nataru), Idul Fitri, dan masa libur sekolah.
- Aksesibilitas Upacara Adat: Memberikan ruang yang layak bagi prosesi krama menuju Setra Gede tanpa harus memotong total arus logistik pariwisata.
Ancaman Bottleneck Jalan Pratama Menanti Solusi Permanen
Kendati Simpang Siligita mulai tertangani, Sukses mengingatkan bahwa peta kemacetan di Kuta Selatan belum sepenuhnya aman. Ancaman kelumpuhan arus lalu lintas bergeser ke arah utara, tepatnya di koridor tunggal Jalan Pratama.
Jalan Pratama saat ini menjadi satu-satunya urat nadi darat penopang aktivitas wisata bahari di Tanjung Benoa. Beban volume kendaraan di jalur tunggal tersebut sangat rentan kolaps setiap kali volume wisatawan domestik dan mancanegara melonjak bersamaan.
Guna mencegah kebuntuan mobilitas berkelanjutan, Sukses mendesak Pemkab Badung segera mengkaji opsi infrastruktur terobosan berupa jalur lingkar barat.
“Kalau memungkinkan, mungkin bisa dicarikan dari Lapangan Lagoon menyasar tepian mangrove yang ada di sebelah barat, jadi tembusnya nanti di Tanjung Benoa,” pungkas Sukses.
Gagasan jalan alternatif di pesisir barat ini dinilai sebagai langkah preventif paling rasional untuk mendistribusikan beban kendaraan, sekaligus mengakhiri ketergantungan kronis Kuta Selatan pada koridor tunggal Jalan Pratama. (brv)






Tinggalkan Balasan