Mangupuranews – Badung, Ketua Komisi II DPRD Badung I Made Sada mendampingi Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa menanam padi dengan sistem Pertanian Modern (PM) Advanced Agriculture System (AAS) di Subak Tanah Yeng, Desa Sedang, Abiansemal, Sabtu (29/08/2026).
Solusi Konkret di Tengah Menyusutnya Lahan Baku
Alih fungsi lahan pertanian yang terjadi setiap tahun di Kabupaten Badung menjadi ancaman serius bagi ketahanan pangan lokal. Menjawab tantangan tersebut, Dinas Pertanian Kabupaten Badung memperkenalkan teknologi PM AAS sebagai langkah efisiensi produktivitas tanah.

Meski membutuhkan investasi awal yang lebih tinggi, teknologi ini menawarkan lonjakan hasil produksi yang signifikan bagi para petani lokal.
”Walaupun nanti dengan sistem ini biaya pertanian memang meningkat 15 persen, tapi hasil dari pertanian nanti akan meningkat menjadi 60 persen dari semula,” ujar Made Sada di sela-sela kegiatan penanaman padi.
Ia menilai modal tambahan tersebut sebanding dengan lonjakan efisiensi yang didapat.
“Itu artinya kan ini memang suatu sistem pertanian maju yang mesti diterapkan oleh pertanian petani kita,” lanjutnya.
Skema Jaminan Harga: Perumda Siap Beli di Atas Harga Pasar
Tantangan utama penerapan teknologi baru biasanya terletak pada kekhawatiran petani terkait pemasaran hasil panen. Mengantisipasi hal itu, Komisi II DPRD Badung memastikan sinergi antar-instansi telah disiapkan untuk menjaga stabilitas harga di tingkat petani.
Pemerintah Kabupaten Badung melibatkan Perumda Pasar dan Pangan Mangu Giri Sedana yang bekerja sama langsung dengan Dinas Pertanian untuk menampung seluruh hasil produksi PM AAS.

Made Sada meminta para petani fokus pada peningkatan produksi tanpa perlu cemas akan permainan harga tengkulak.
”Petani nanti tidak perlu khawatir kalau sudah ada panen, lapor ke pertanian, lapor ke Perumda, Perumda akan membeli hasil dari petani lebih mahal dari pada harga pasar,” tegas Politisi DPRD Badung tersebut.
Poin Kunci Efektivitas PM AAS di Badung:
- Solusi Keterbatasan Lahan: Mengoptimalkan area tanam yang makin menyusut agar tetap produktif.
- Efisiensi Biaya vs Hasil: Kenaikan biaya operasional 15% berbanding lurus dengan kenaikan hasil panen hingga 60%.
- Jaminan Pasar: Kepastian penyerapan hasil panen oleh BUMD dengan harga di atas rata-rata pasar.
- Dukungan Regulasi dan Anggaran: Komitmen penuh DPRD Badung dalam mengawal kebijakan pemerintah daerah di sektor pangan.
Melalui pengawalan ketat dari pihak legislatif dan eksekutif, penerapan sistem PM AAS di Subak Tanah Yeng ini diharapkan menjadi percontohan (pilot project) yang bisa direplikasi ke seluruh subak di Kabupaten Badung. (brv)






Tinggalkan Balasan