Mangupuranews – MANGUPURA, Tingkat pengangguran di Badung turun drastis dari 2,72 persen menjadi 1,57 persen pada 2026. Pemulihan ekonomi pariwisata serta ekspansi ratusan pekerja lokal ke pasar internasional menjadi motor penggerak utama capaian ini.
Kepala Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) Badung, Drs. Anak Agung Ngurah Rai Yuda Darma, menegaskan pemulihan sektor usaha menempatkan Badung sebagai salah satu daerah dengan pengangguran terendah.
”Data makroekonomi terbaru menunjukkan TPT kita turun drastis ke angka 1,57 persen karena aktivitas ekonomi daerah sudah pulih sepenuhnya,” kata Ngurah Rai saat ditemui di Mangupura, Rabu (21/10/2026).
Pasar Luar Negeri Jadi Penopang Utama Penyerapan Kerja
Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, Disperinaker mencatat sebanyak 726 tenaga kerja asal Badung berhasil diserap pasar. Menariknya, penempatan ke luar negeri justru mendominasi secara mutlak dibanding serapan industri domestik.
”Dari total 726 pekerja, penempatan luar negeri paling mendominasi yaitu mencapai 601 orang, sementara penempatan dalam negeri sebanyak 125 orang,” ujar Ngurah Rai.
Secara demografis dan waktu penyerapan, Disperinaker mencatat sejumlah data kunci:
- Komposisi Gender: 508 tenaga kerja laki-laki dan 218 perempuan.
- Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI): 276 orang terdaftar resmi (179 laki-laki dan 97 perempuan).
- Puncak Penyaluran: Terjadi pada April 2026 dengan lonjakan 210 pekerja dalam satu bulan.
Dominasi penempatan global ini memperlihatkan tren menarik. Di satu sisi, daya saing sumber daya manusia Badung kian diakui di level internasional. Namun di sisi lain, tingginya angka ini mengindikasikan bahwa kapasitas daya tampung dan standar remunerasi pasar kerja lokal di Bali belum sepenuhnya mampu mengimbangi kebutuhan para pencari kerja.
Sektor Pariwisata Masih Mendominasi, Kewajiban 70% Tenaga Lokal Ditegakkan
Untuk pasar domestik, kawasan Badung selatan masih menjadi magnet utama penciptaan lapangan kerja baru. Sektor akomodasi dan kuliner memimpin, disusul perdagangan, jasa transportasi, serta industri kreatif pangan.
”Pariwisata di kawasan Badung selatan memang masih jadi penggerak utama dalam membuka lapangan kerja,” tutur mantan Kadis Perhubungan Badung tersebut.
Guna memastikan warga setempat tidak sekadar menjadi penonton di daerahnya sendiri, regulasi penyerapan tenaga kerja diperketat. Pemkab Badung mengikat manajemen usaha lewat kontrak resmi sebelum izin operasional berjalan penuh.
”Kami buat kesepakatan dengan swasta agar hotel dan restoran baru di Kuta, Nusa Dua, hingga Canggu wajib menyerap minimal 70 persen pekerja lokal Badung. Kami juga jalankan program magang industri yang langsung terhubung ke rekrutmen pegawai tetap,” terang Ngurah Rai.
Transformasi Kompetensi: Dari Kendaraan Listrik hingga Proteksi Jamsostek
Strategi penurunan pengangguran tidak hanya bertumpu pada bursa kerja formal (job fair). Pemerintah daerah mengalokasikan APBD untuk pelatihan intensif selama 40 hingga 42 hari, mencakup mekanik sepeda motor listrik hingga manajemen wirausaha kuliner.
Pendekatan ini membuahkan hasil nyata pada tingkat serapan lulusan:
- Tingkat Keberhasilan: 80 persen alumni pelatihan langsung diserap industri atau mendirikan usaha mandiri.
- Legalitas Kompetensi: Peserta dibekali sertifikasi resmi berstandar industri.
- Bantuan Permodalan: Diberikan stimulus modal kerja agar peserta mampu membuka lapangan kerja baru bagi komunitas sekitar.
Menghadapi pergeseran tren industri ke depan, kurikulum pelatihan kini mulai dialihkan menuju ekosistem ekonomi hijau dan teknologi kendaraan listrik.
”Perlindungan jaminan sosial pekerja rentan lewat APBD juga kami naikkan targetnya sampai 59,80 persen,” pungkas Ngurah Rai, menutup keterangannya terkait upaya mitigasi kerentanan ekonomi masyarakat. (brv)






Tinggalkan Balasan