AKNSB Yogyakarta Suguhkan Sendratari Satya Paramartha di PKB XLVIII, Kolaborasi 110 Seniman Tuai Apresiasi

20260709 185613
Foto bersama jajaran pimpinan, dosen, mahasiswa, dan para seniman Akademi Komunitas Negeri Seni Budaya (AKNSB) Yogyakarta usai menampilkan Sendratari Satya Paramartha pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Denpasar, Kamis (9/7). Pertunjukan yang mengangkat kisah spiritual Bratasena tersebut melibatkan 110 seniman dan memadukan seni tari, karawitan, serta kriya kulit khas Yogyakarta.
banner 468x60

MANGUPURANEWS – DENPASAR, Akademi Komunitas Negeri Seni Budaya (AKNSB) Yogyakarta sukses memukau penonton pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII melalui pementasan Sendratari Satya Paramartha (Pencarian Kebenaran Tertinggi) di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Denpasar, Kamis (9/7) sore.

Pertunjukan yang melibatkan 110 seniman tersebut menghadirkan perpaduan harmonis antara koreografi, tata busana, musik karawitan, hingga artistik panggung. Penampilannya dinilai semakin matang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, sekaligus memperlihatkan kekayaan seni tradisi Yogyakarta yang dikemas lebih segar tanpa meninggalkan akar budayanya.

Bacaan Lainnya
banner 300250

Sutradara pertunjukan, Otok Fitrianto, M.Pd., menjelaskan bahwa Sendratari Satya Paramartha digarap dengan mengacu pada tema PKB XLVIII, “Atma Kerthi: Jiwa Sidha Parisudha, Memuliakan Jiwa Paripurna.” Tema tersebut dinilai selaras dengan perjalanan spiritual tokoh Bratasena dalam mencari hakikat kehidupan.

Cerita diawali ketika Bratasena mendapat perintah dari gurunya, Resi Durna, untuk mencari Air Kehidupan atau Tirta Perwitasari sebagai syarat mencapai kesempurnaan ilmu. Namun, di balik perintah tersebut tersimpan tipu daya yang bertujuan mencelakakan Bratasena.

Dengan keteguhan hati, Bratasena tetap menjalankan tugasnya. Ia harus menghadapi berbagai rintangan, mulai dari melawan raksasa penjaga Hutan Gunung Candramuka hingga naga yang menguasai samudra luas.

Perjalanan itu akhirnya membawanya ke dasar lautan, tempat ia bertemu sosok kecil bercahaya bernama Dewa Ruci. Atas petunjuk Dewa Ruci, Bratasena memasuki tubuh sang dewa dan memperoleh pengalaman spiritual yang memperlihatkan luasnya alam semesta, hakikat kehidupan, asal-usul manusia, hingga kesatuan manusia dengan Tuhan. Dari pengalaman tersebut, Bratasena mencapai kesadaran spiritual tertinggi.

Pementasan ini merupakan kolaborasi Program Studi Seni Tari, Seni Karawitan, dan Kriya Kulit AKNSB Yogyakarta yang menyatukan unsur tari, musik tradisi, serta seni kriya dalam satu pertunjukan yang utuh.

Kepala Program Studi Tari, Ali Nur Sotya Nugraha, M.Sn., mengungkapkan bahwa AKNSB menampilkan tiga karya utama, yakni Tari Topeng Gunungsari dari Fragmen Cerita Panji, konser karawitan yang membawakan karya Lelagon Pangatak berlaras Pelog Pathet Nem ciptaan maestro Ki Narto Sabdo, serta Sendratari Satya Paramartha.

Menurut Ali, sendratari tersebut tetap berlandaskan pakem tari Yogyakarta, namun dikembangkan melalui berbagai modifikasi artistik sehingga menghadirkan nuansa baru tanpa menghilangkan identitas khas Yogyakarta.

Sementara itu, Kaprodi Kriya Kulit Ima Novilasari, M.Sn., turut menghadirkan lokakarya tatah sungging atau pembuatan wayang kulit. Selain workshop, dipamerkan pula karya mahasiswa berupa wayang kulit dan kulitan jarik bergaya Yogyakarta.

Ia mengungkapkan, saat melakukan kunjungan ke Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, sejumlah mahasiswa tertarik membandingkan teknik tatahan wayang Yogyakarta yang cenderung lebih detail dan berukuran kecil dengan karakter tatahan khas Bali yang relatif lebih besar.

Di bidang karawitan, Kaprodi Karawitan Bayu Purnama, M.Sn., menjelaskan bahwa pertunjukan diawali dengan Gending Soran sebagai pakem karawitan gaya Yogyakarta, kemudian dilanjutkan iringan Tari Klana Topeng Alus Gunungsari yang menjadi bagian dari tradisi Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Selanjutnya, bersama dosen Kreativitas Karawitan Agustinus Welly Hendratmoko, M.Sn., para mahasiswa mengiringi jalannya Sendratari Satya Paramartha dengan komposisi musik yang memperkuat suasana dramatik di setiap adegan.

Direktur AKNSB Yogyakarta, Prof. Dr. Drs. Kuswarsantyo, M.Hum., menyampaikan apresiasi atas dukungan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta melalui Dana Keistimewaan yang selama ini membantu pelaksanaan praktik mahasiswa, termasuk keikutsertaan dalam PKB.

Menurutnya, setiap tahun AKNSB tidak hanya menghadirkan pertunjukan tari, tetapi juga karawitan dan kriya kulit melalui pameran wayang. Ke depan, karya-karya berbasis tradisi Yogyakarta akan terus dikembangkan agar mampu mengikuti dinamika seni pertunjukan Indonesia tanpa kehilangan identitas budayanya.

Dukungan serupa juga disampaikan Kepala Bidang Perencanaan dan Pengembangan Mutu Pendidikan Disdikpora DIY, Drs. Raden Suci Rohmadi, M.I.P. Ia menegaskan pemerintah daerah akan terus berkomitmen melestarikan budaya Yogyakarta melalui pemanfaatan Dana Keistimewaan, sekaligus memperkuat pendidikan seni budaya beserta sarana dan prasarananya.

Di sisi lain, koreografer Wisnu Dermawan, M.Sn., menjelaskan bahwa Sendratari Satya Paramartha merupakan pengembangan kreatif dari pakem klasik Yogyakarta. Pembaruan dilakukan melalui eksplorasi visual, termasuk penggunaan warna-warna yang lebih dinamis pada tokoh naga, laut, maupun raksasa, sehingga pertunjukan terasa lebih relevan dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan karakter budaya Yogyakarta yang menjadi fondasinya. (red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses