Mangupuranews – DENPASAR, Presiden Prabowo Subianto didampingi Gubernur Bali, I Wayan Koster meninjau proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Gilimanuk di Jembrana, Selasa (25/8/2026). Kunjungan ini sekaligus menandai percepatan program PLTS Bali Energi Bersih bersama PT PLN (Persero).

​Langkah strategis ini diambil guna mengatasi persoalan kelistrikan Bali yang selama ini masih bergantung pada energi berbasis fosil dan Bahan Bakar Minyak (BBM) impor berbiaya tinggi.

Presiden RI Prabowo Subianto (tengah), didampingi Gubernur Bali Wayan Koster (kedua dari kanan) dan pejabat terkait, memberikan sambutan dalam acara launching dan groundbreaking program PLTS 100 GWp di Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana

Analisis Masalah: Mengapa Bali Harus Segera Beralih ke Energi Bersih?

​Sistem kelistrikan Bali selama ini menghadapi tantangan ganda: ketergantungan pada pasokan BBM impor yang mahal serta tuntutan standar green tourism dari wisatawan global.

  • Beban Biaya Tinggi: Penggunaan BBM fosil memicu pembengkakan biaya operasional kelistrikan daerah.
  • Ancaman Citra Pariwisata: Pariwisata internasional menuntut ekosistem lingkungan yang bersih dan bebas emisi carbon.
  • Kendala Lahan Proyek: Proyek energi bersih yang telah dirancang sejak 2019 sempat terhenti akibat pandemi COVID-19 dan hambatan pembebasan lahan.

​Melalui sinergi baru ini, Pemprov Bali berkomitmen membebaskan lahan milik negara yang tidak produktif di kawasan Jembrana untuk menopang infrastruktur energi hijau.

Gubernur Koster: Bebaskan Lahan Produktif demi Pariwisata Hijau

​Gubernur Bali Wayan Koster menyambut baik akselerasi ini sebagai bentuk realisasi Peraturan Gubernur Bali Nomor 45 Tahun 2019 tentang Bali Mandiri Energi.

​”Mewakili Pemerintah dan masyarakat Bali, kami mengucapkan terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto yang telah meluncurkan kebijakan program PLTS ini. Tugas kami di daerah adalah membebaskan lahan milik negara yang tidak produktif agar berdaya guna,” ujar Wayan Koster di Melaya, Jembrana.

Simbol optimisme untuk energi bersih. Pimpinan PLN, Gubernur Koster, dan jajaran direksi PLN mengacungkan jempol usai penandatanganan kerja sama dalam penyediaan lahan dan percepatan proyek PLTS 100 GWp di Jembrana

Koster menegaskan bahwa penggunaan Energi Baru Terbarukan (EBT) tidak hanya menekan biaya, tetapi juga memperkuat citra Bali di mata dunia.

​”Manfaat PLTS ini tidak saja untuk memenuhi kebutuhan energi, tapi juga meningkatkan citra pariwisata Bali yang perlu didukung ekosistem lingkungan bersih. Kita tidak lagi impor BBM dan biayanya jauh lebih murah,” tambahnya.

 

PLN Tekan Biaya Kelistrikan Lewat Energi Domestik

​Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo menjelaskan bahwa transisi ini akan menggeser struktur beban kelistrikan Bali secara signifikan.

    • ​Dari energi fosil mahal beralih ke energi hijau terbarukan yang ekonomis.
    • ​Dari ketergantungan BBM impor beralih ke pemanfaatan sumber daya domestik.

​”Dengan program ini, sistem kelistrikan Bali bergeser dari energi berbasis BBM impor digantikan energi domestik. Dari energi mahal menjadi murah, serta menopang pariwisata Bali agar berkembang dengan energi hijau yang lebih handal,” jelas Darmawan.

 

​Ia menambahkan bahwa efektivitas eksekusi PLTS 1.000 GWp di Bali ini sangat bergantung pada kecepatan penyediaan lahan melalui kerja sama erat antara pemerintah pusat dan daerah. (editor: brv)