Mangupuranews – KUTA, Peringatan Bom Bali ke-24 di Monumen Tragedi Kemanusiaan Ground Zero, Kuta, menyisakan pesan perdamaian mendalam dari kolaborasi penyintas serta puluhan anak dan remaja bertalenta khusus YPM Lima Nada.

​Meski digelar di tengah keterbatasan anggaran, acara refleksi tahunan tersebut membuktikan komitmen warga dan korban untuk terus merawat memori kemanusiaan secara swadaya.

Seorang anak perempuan bertalenta khusus melantunkan lagu perdamaian dengan memegang mikrofon di barisan depan paduan suara Yayasan Pendidikan Musik (YPM) Lima Nada di pelataran Monumen Ground Zero, Legian, Kuta, Bali.

Di depan dinding marmer bertuliskan 202 nama korban lintas negara, anak-anak berpakaian serba putih melantunkan tembang harmoni, mulai dari “Heal the World“ hingga “Tri Hita Karana”.

​Tiga di antaranya tampil tegak menyanyi dari atas kursi roda, memikat perhatian wisatawan mancanegara dan warga lokal yang memadati pelataran monumen.

​Menolak Menyerah pada Trauma dan Keterbatasan

​Bagi Theolina F. Marpaung, pengurus Yayasan Isana Dewata sekaligus korban luka pada peristiwa 12 Oktober 2002, peringatan ini adalah ikrar batin yang tak boleh luntur.

​Ia menegaskan, kendala biaya tidak boleh memadamkan suara perdamaian dari Pulau Dewata.

​“Dulu saya marah, mengapa saya menjadi korban. Saya bertanya kepada Tuhan mengapa saya diutus sebagai korban,” tutur Theolina.

Penyintas tragedi Bom Bali 2002 sekaligus pengurus Yayasan Isana Dewata, Theolina F. Marpaung, menyampaikan pesan refleksi kemanusiaan di pelataran Monumen Ground Zero, Legian, Kuta, Bali.

​“Dengan berjalannya waktu, saya menyadari bahwa saya diutus untuk bisa hadir saling menguatkan. Walau tidak ada budget, tapi harus kita usahakan terus, agar Bali tetap bersuara menyuarakan perdamaian untuk dunia,” imbuhnya.

​Transformasi Karakter Lewat Musik Inklusif

​Kehadiran anak-anak Yayasan Pendidikan Musik (YPM) Lima Nada malam itu bukan sekadar pengisi panggung hiburan.

​Pendiri YPM Lima Nada, Raden Wahyu Panca Wati, menilai panggung Ground Zero merupakan wahana edukasi empati dan toleransi sejak dini.

​“Acara ini sangat bermakna, di mana anak-anak dengan kemurnian hati di antara keterbatasannya bisa ikut andil menyuarakan perdamaian melalui lagu-lagu yang mereka nyanyikan,” kata Wahyu.

Pendiri Yayasan Pendidikan Musik (YPM) Lima Nada, Raden Wahyu Panca Wati, memimpin anak-anak dan remaja bertalenta khusus membawakan lagu perdamaian di pelataran Monumen Tragedi Kemanusiaan Ground Zero, Kuta, Bali.

​“Momen ini pengingat bagi anak-anak untuk ikut serta menjaga perdamaian sejak kecil. Ini sejalan dengan semangat YPM Lima Nada yang juga mengajarkan karakter berbudi luhur, bukan melulu teknik bermusik,” jelasnya.

Apresiasi juga disuarakan oleh para orang tua siswa, salah satunya Pinkan Kalani, yang mendampingi putranya seorang remaja autisme tampil di barisan koor.

​“Sebagai orang tua, kami sangat bersyukur melihat anak-anak menyuarakan pesan damai lewat nada. Terima kasih atas ruang inklusif ini; mari terus rawat perdamaian demi masa depan mereka,” ujar Pinkan.

Pinkan Kalani berfoto bersama putranya usai mengikuti peringatan 24 tahun tragedi kemanusiaan Bom Bali di depan Monumen Ground Zero, Kuta, Badung, Bali

Refleksi 24 Tahun: Poin Kritis dan Pesan Damai

​Perjalanan lebih dari dua dekade pascatragedi memunculkan catatan penting bagi masyarakat dan pemangku kepentingan:

  • ​Kemandirian Penyintas: Ketiadaan anggaran resmi tak menyurutkan langkah yayasan korban untuk mandiri menjaga tradisi doa bersama.
  • ​Pemberdayaan Inklusif: Melibatkan kelompok disabilitas membuktikan bahwa pesan kemanusiaan melintasi sekat fisik, suku, dan generasi.
  • ​Regenerasi Ingatan Kolektif: Generasi muda yang lahir pasca-2002 mulai mengambil peran sebagai agen toleransi aktif.
Seorang pemuda di atas kursi roda bernyanyi penuh penghayatan bersama rekan-rekannya dari YPM Lima Nada saat memperingati 24 tahun Bom Bali di Monumen Ground Zero, Kuta, Bali.

Tragedi 24 tahun lalu telah menjadi sejarah kelam, namun kasih persaudaraan tetap menjadi penawar abadi.

​Sebagaimana diungkapkan Theolina, perdamaian hanya bisa terwujud nyata bila dilandaskan rasa kasih antarsesama dan semesta ciptaan-Nya. (editor: brv)