Kerja Sama Regional Sunda Kecil: Bali, NTB, dan NTT Bersatu Perkuat NKRI

img 20260719 wa0040
Kolase Dokumentasi Pertemuan — Rangkaian pertemuan intensif yang digelar di Denpasar, Mandalika, dan Kupang guna menyusun cetak biru kolaborasi strategis demi kemajuan ekonomi berkelanjutan di tiga provinsi.
banner 468x60

DENPASAR | mangupuranews – Gubernur Bali Wayan Koster menginisiasi kerja sama regional Sunda Kecil bersama NTB dan NTT demi memperkuat NKRI (19/7/2026). Kolaborasi strategis lintas provinsi ini dirancang untuk menjawab tantangan pembangunan global secara berkelanjutan dan terintegrasi.

​Menghidupkan Kembali Historis Sunda Kecil untuk Masa Depan

​Gagasan besar untuk menyatukan visi Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak lahir dalam semalam. Konsep matang ini disusun melalui rangkaian pertemuan maraton selama beberapa bulan terakhir.

Bacaan Lainnya
banner 300250

​Langkah awal dimulai dari meja diskusi di Ruang Rapat Kertha Sabha, Jayasabha, Denpasar pada 3 November 2025. Komitmen tersebut kemudian diperkuat di Mandalika (NTB) pada 25 November 2025, hingga akhirnya dipertegas di Kupang (NTT) pada 28 Januari 2026.

img 20260719 wa0038
Cendera Mata Persatuan — Tiga kepala daerah memperlihatkan plakat kerja sama sebagai simbol penguat komitmen pembangunan sektor pariwisata dan infrastruktur terintegrasi.

Bagi Wayan Koster, kerja sama ini bukan sekadar urusan birokrasi antarpemerintah daerah. Ini adalah langkah strategis untuk menempatkan ketiga provinsi sebagai satu kesatuan wilayah yang diperhitungkan di kancah nasional.

​”Kerja sama ini dibangun dengan semangat baru sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku saat ini, namun tetap menjaga spirit historis Sunda Kecil sebagai fondasi membangun kemajuan bersama,” ujar Koster, Minggu (19/7/2026).

 

​Sektor Strategis: Dari Energi Bersih hingga Pariwisata

​Tantangan modern seperti transisi energi dan perubahan iklim tidak bisa lagi dihadapi secara sendirian oleh tiap provinsi. Oleh karena itu, kolaborasi ini berfokus pada pemecahan masalah konkret secara bersama-sama.

img 20260719 wa0037
Sinergi Lintas Batas — (Dari kiri) Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal, Gubernur Bali Wayan Koster, dan Gubernur NTT Melkiades Laka Lena tampak kompak mengepalkan tangan bersama usai menyepakati poin-poin penting kerja sama regional Sunda Kecil.

Berikut adalah sejumlah sektor utama yang menjadi fokus kolaborasi Bali NTB NTT:

  • Pengembangan Energi Bersih: Mengoptimalkan potensi energi terbarukan di kawasan Sunda Kecil.
  • Konektivitas Transportasi: Membangun sistem transportasi yang saling terintegrasi antarpulau.
  • Penguatan Sektor Pariwisata: Menyinergikan daya tarik wisata lintas provinsi agar lebih kompetitif.
  • Peningkatan SDM Aparatur: Memperkuat kapasitas birokrasi demi pelayanan publik yang lebih baik.

​Koster menegaskan bahwa seluruh program ini murni berjalan dalam koridor hukum untuk memperkuat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), bukan bertujuan membentuk blok kewilayahan yang eksklusif.

​Merajut Kemajuan di Tengah Keberagaman Agama dan Politik

​Hal yang paling menarik dari terbentuknya kerja sama regional Sunda Kecil ini adalah bersatunya berbagai latar belakang yang berbeda. Kawasan ini dihuni oleh masyarakat dengan mayoritas agama yang kontras: Bali dengan Hindu, NTB dengan Islam, dan NTT dengan Kristen.

img 20260719 wa0041
Kunjungan Lapangan di Mandalika — (Dari kiri) Gubernur NTT Melkiades Laka Lena, Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal, dan Gubernur Bali Wayan Koster berfoto bersama di area Pertamina Mandalika International Circuit saat membahas potensi integrasi pariwisata.

Tidak hanya itu, latar belakang politik ketiga kepala daerahnya pun berada di payung partai yang berbeda:

  1. Wayan Koster (Gubernur Bali) merupakan Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Bali.
  2. Lalu Muhamad Iqbal (Gubernur NTB) menjabat sebagai Ketua DPD Partai Gerindra Provinsi NTB.
  3. Melkiades Laka Lena (Gubernur NTT) merupakan Ketua DPD Partai Golkar Provinsi NTT.

​Namun, perbedaan warna politik dan keyakinan tersebut justru dilebur menjadi sebuah kekuatan dan energi baru.

​”Perbedaan agama maupun latar belakang politik tidak menjadi penghalang. Justru keberagaman itu menjadi energi untuk membangun sinergi. Yang dikedepankan adalah kepentingan rakyat, memperkuat NKRI, dan mendorong kemajuan Indonesia,” tegas Koster.

 

​Secara historis, ketiga provinsi ini memang pernah berada dalam satu administrasi wilayah berdasarkan Undang-Undang Nomor 64 Tahun 1958. Meski kini telah memiliki regulasi daerah masing-masing, ikatan sejarah tersebut tetap menjadi modal sosial yang kuat untuk mengikis ego sektoral demi kesejahteraan masyarakat luas. (editor: brv)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses