MANGUPURANEWS – DENPASAR, Pengusaha logistik Handy Saputra kembali menggelar pameran seni rupa tunggal bertajuk The Moon and Its Halo di Santrian Gallery, Sanur, Bali, Jumat (6/11/2026) malam. Eksibisi ini menjadi ruang katarsis personal sekaligus perayaan kebebasan berekspresi tanpa sekat akademis.

​Pameran tunggal ketiga ini menyusul jejak pameran perdananya di Rumah Sanur pada 2020 dan pameran kedua di Sika Gallery pada 2025. Sebanyak puluhan karya terbaru yang digarap sepanjang 2026 dipajang, mulai dari lukisan akrilik di atas kanvas hingga eksplorasi seni cetak grafis (printmaking).

​Seni Sebagai Oase di Tengah Rutinitas Logistik

​Menjalani profesi sebagai pelaku bisnis logistik selama hampir empat dekade menghadirkan tantangan mental yang tidak sederhana. Ritme kerja industri yang serba terukur, berorientasi target, dan materialistis kerap mengikis ruang batin seseorang. Bagi Handy, kanvas putih hadir bukan untuk mengejar gelar perupa formal, melainkan medium pemulihan jiwa.

​“Seni merupakan salah satu alat untuk membantu mengasah sisi kemanusiaan kita,” ujar Handy Saputra di sela-sela pembukaan pamerannya.

Handy menegaskan bahwa dunia bisnis dan kesenian tidak perlu ditempatkan secara berlawanan. Ketertarikan pada seni—baik lukis, musik, maupun tari—berfungsi menjaga empati tetap hidup di tengah tuntutan profesional yang mekanis.

​Eksplorasi Visual: Menolak Sekat Aliran

​Dalam proses kreatifnya, Handy memilih melukis secara spontan tanpa membuat sketsa konsep yang kaku. Karakter visual karyanya memadukan energi liar, figur-figur terdistorsi, wajah bertopeng, serta rupa fauna yang ganjil namun jenaka.

​Beberapa karakteristik pameran The Moon and Its Halo mencakup:

​Evolusi Medium: Berawal dari eksplorasi tinta Cina dan kertas Padia pada 2020, kini berkembang ke cat akrilik di atas kanvas serta eksplorasi teknik grafis bersama DEVFTO Printmaking Studio.

​Bahasa Visual Primitif: Kerap dikaitkan dengan langgam Art Brut, Outsider Art, hingga gerakan avant-garde CoBrA lewat sapuan garis spontan dan kontras warna berani.

​Transparansi Makna: Menolak pembatasan interpretasi agar publik bebas membaca narasi visual sesuai perspektif personal.

​“Saya tidak ingin terjebak dalam klasifikasi. Silakan saja orang menilai karya saya berdasarkan persepsinya masing-masing,” tutur Handy.

Kurator pameran, Muhammad Bundhowi, mencatat bahwa karya-karya Handy lahir dari dialog batin yang jujur. Menurutnya, Handy berhasil memadukan insting bisnis dengan sensitivitas visual otodidak, menghasilkan karya yang memotret fenomena sosial, psikologis, hingga kontemplasi filosofis.

​Dari Ruang Privat Menuju Apresiasi Publik

​Minat Handy terhadap seni rupa berakar sejak masa SMA berkat kedekatannya dengan almarhum pelukis Frans Najira. Berawal dari kebiasaan mengamati proses lukis Najira dari nol, Handy kemudian aktif mengoleksi lukisan sebelum akhirnya didorong rekan-rekan senimannya untuk mulai berkarya sendiri.

​Keberanian Handy memamerkan karya kembali menuai sambutan hangat para kolektor dan penikmat seni. Sejumlah karya bahkan telah diapresiasi dan berpindah tangan sebelum seremoni pembukaan berlangsung. Pameran The Moon and Its Halo membuktikan bahwa ruang seni selalu terbuka luas bagi siapa pun yang ingin merawat kewarasan dan sisi kemanusiaan. (brv)