MANGUPURANEWS – DENPASAR, Suasana penuh kehangatan, toleransi, dan keceriaan mewarnai peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-16 Kelompok Arisan Keluarga (KAK) Melati yang dikolaborasikan dengan peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW 1448 H di Jalan Nuansa Kori Barat IV/8, Banjar Tegal Kori, Ubung Kaja, Denpasar Utara, Minggu (6/9/2026).
Mengusung tema “Momentum Maulid Nabi Muhammad SAW Meningkatkan Semangat Kita untuk Menebar Kebaikan dan Menjaga Persaudaraan dalam Keberagaman Umat”, perayaan ini menghadirkan potret nyata indahnya kerukunan antarumat beragama di Pulau Dewata. Sebanyak 200 tamu undangan dari latar belakang agama yang beragam, mulai dari Muslim, Hindu, Nasrani, Buddha, hingga Konghucu, berkumpul dan membaur penuh keakraban.
Pembina KAK Melati, Djoko Moeljono, menyampaikan bahwa keberagaman yang hadir menjadi gambaran semangat komunitas yang sejak awal dibangun untuk menjalin silaturahmi tanpa batas.
“Melati itu kepanjangan dari Menjalin Tali Silaturahmi Tiada Batas. Hari ini kami memperingati ulang tahun ke-16 sekaligus Maulid Nabi Muhammad SAW,” ujar Djoko.
Djoko menegaskan, KAK Melati yang berdiri sejak 7 Juli 2010 dan kini memiliki sekitar 40 anggota tidak pernah membatasi keanggotaan maupun kegiatan berdasarkan latar belakang agama.
“Kami sengaja mengundang lintas agama. Ada Muslim, Hindu, Nasrani, Buddha dan Konghucu. Tujuannya supaya tali silaturahmi yang selama ini kami gagas tetap terjaga,” tambahnya.
Semangat inklusivitas dan kepedulian sosial juga diwujudkan melalui aksi nyata berupa pemberian santunan kepada belasan anak yatim piatu. Kegiatan sosial yang berkolaborasi dengan komunitas Bolo-Bolo Surabaya ini berlangsung khidmat sekaligus menggugah rasa empati.
Koordinator KAK Melati, Lutfi Hidayati, mengungkapkan bahwa berbagi adalah esensi utama dari gerakan mereka.
“Visi dan misi kami sama, yaitu saling berbagi. Hari ini ada santunan dan kami juga dibantu oleh Bolo-Bolo Surabaya,” ungkap Lutfi.
Lutfi berharap aksi kepedulian sosial ini dapat terus menjangkau masyarakat luas tanpa memandang sekat agama.
“Ke depan, kami berharap bisa kembali berbagi kepada panti asuhan, baik yang Nasrani maupun Hindu. Selama ini kegiatan sosial kami lebih banyak berbagi ke panti-panti,” tuturnya.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga persaudaraan sejati, “Bhinneka Tunggal Ika, ada Hindu, ada Muslim, semua jadi satu. Kami tidak melihat dari mana asalnya, agamanya apa atau profesinya apa.”
Selain sarat makna kebersamaan dan aksi sosial, suasana perayaan juga berlangsung meriah dengan hadirnya berbagai hiburan seru untuk anak-anak dan keluarga. Gelak tawa mewarnai permainan kuis tanya jawab berhadiah hingga tradisi memecahkan pinata—bungkusan hadiah gantung berisi permen dan makanan ringan—yang disambut gembira oleh anak-anak.
Memasuki usia ke-16 tahun, KAK Melati berharap dapat terus solid dan konsisten menjadikan silaturahmi, toleransi keberagaman, dan kepedulian sosial sebagai fondasi utama dalam kehidupan berkomunitas. (red-tim)






Tinggalkan Balasan