DENPASAR — Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrat Bali menggencarkan strategi politik nilai untuk menjangkau ceruk pemilih mengambang saat perhelatan Pilkada serentak di Pulau Dewata kelak. Langkah ini diproyeksikan mereduksi hegemoni politik tradisional di daerah.

​Manuver berbasis pendekatan kultural dan aksi sosial ini diposisikan sebagai alternatif segar bagi pemilih lokal. Demokrat menegaskan posisinya tidak sekadar menjadi partai pelengkap dalam arena perebutan suara daerah.

​Sekretaris DPD Partai Demokrat Bali, I Made Sada, A.Md.Par., S.H., menegaskan bahwa konstelasi politik lokal saat ini tidak lagi sepenuhnya monolitik. Karakter pemilih Bali dinilai kian kritis terhadap rekam jejak program yang berdampak langsung.

​”Demokrasi itu dinamis. Dari sekian banyak masyarakat, tidak semuanya memilih warna yang sama. Pasti ada riak-riak dan ruang bagi warga yang mencari alternatif figur. Di sanalah ruang pengabdian kita,” ujar Made Sada di Denpasar, Sabtu (5/9/2026).

 

​Jebakan Hegemoni dan Peluang Ceruk Alternatif

​Selama puluhan tahun, lanskap politik Pulau Dewata identik dengan julukan “Kandang Banteng” berkat dominasi struktural dan basis massa militan PDI Perjuangan. Dominasi tersebut kerap menciptakan polarisasi kompetisi yang timpang bagi partai non-penguasa.

​Tantangan struktural yang dihadapi partai di luar hegemoni petahana meliputi:

  • Dominasi Ruang Publik: Keterbatasan ruang ekspresi elektoral akibat kuatnya jejaring birokrasi dan kekuasaan lokal.
  • Perang Logistik Finansial: Tingginya biaya politik kampanye terbuka yang acap kali mengaburkan gagasan programatik.
  • Persepsi Monolitik: Stigma di masyarakat bahwa kontestasi lokal sudah selesai sebelum pemilihan resmi berlangsung.

​Kendati demikian, arus urbanisasi dan penetrasi pemilih muda di perkotaan seperti Denpasar dan Badung memicu pergeseran preferensi. Kelompok pemilih ini cenderung tidak terikat loyalitas partai tradisional dan mendambakan rekam jejak kerja yang teruji.

​Politik Nilai Melawan Perang Baliho

​Merespons dinamika tersebut, Demokrat Bali memilih jalur kerja senyap dengan merangkul masyarakat rentan dan menggerakkan agenda kemanusiaan. Model kampanye berbasis simpati publik ini dinilai lebih efektif membangun kedekatan emosional daripada adu baliho di pinggir jalan.

​Bagi Demokrat Bali, fondasi kepercayaan publik ditopang oleh dua modal elektoral utama:

    • Memori Kolektif Stabilitas: Kepemimpinan 10 tahun Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang lekat dengan stabilitas ekonomi dan keamanan pariwisata Bali.
    • Portofolio Reformasi Kebijakan: Kinerja taktis Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dalam jajaran kementerian kabinet yang memperkuat citra teknokratik partai.

​”Kita tidak ingin terjebak pada adu materi semata. Yang terpenting adalah bagaimana kita hadir, berempati, dan memberi solusi nyata di tengah masyarakat,” imbuh Made Sada.

 

​Konsolidasi ideologis ini menjadi bekal sikap politik DPD Demokrat Bali jelang bertolak ke Jakarta untuk menghadiri puncak peringatan HUT ke-25 Partai Demokrat pada 9 September mendatang bersama jajaran anggota dewan se-Indonesia. (brv)