MANGUPURANEWS – KUTA, Menyambut pergantian Tahun Baru 2026, Mercure Kuta Beach Bali menggelar perayaan Malam Tahun Baru bertema “Kampung Nelayan”. Tema ini diangkat dari sejarah Pantai Kuta sebagai kawasan pesisir yang dahulu menjadi ruang hidup masyarakat nelayan, sebelum berkembang menjadi salah satu destinasi pariwisata dunia.
Konsep tersebut dihadirkan sebagai pengingat perjalanan panjang Pantai Kuta. Jauh sebelum dikenal dengan ombak ramah peselancar, hamparan pasir putih, serta panorama matahari terbenam yang mendunia, kawasan ini merupakan tempat masyarakat lokal menggantungkan hidup dari laut. Melalui tema “Kampung Nelayan”, pihak hotel mengajak para tamu dan pelaku pariwisata untuk kembali menghargai akar sejarah pariwisata Bali sekaligus menumbuhkan kesadaran menjaga budaya dan kelestarian alam pesisir.

Hotel Manager Mercure Kuta Beach Bali, Pantri Arini, menjelaskan nuansa Kuta tempo dulu dihadirkan melalui penataan dekorasi yang autentik dan sarat makna. Area perayaan dihiasi jala nelayan, jukung atau perahu tradisional, dayung kayu, anyaman bambu, tali-temali, serta sentuhan elemen kayu alami yang merepresentasikan kehidupan kampung nelayan. Seluruh elemen tersebut dirancang untuk membawa tamu merasakan atmosfer sederhana namun hangat khas kehidupan pesisir Kuta di masa lampau.
Perayaan Malam Tahun Baru ini digelar pada Selasa, 31 Desember 2025, mulai pukul 18.00 WITA di Rooftop lantai 4 Mercure Kuta Beach Bali, dengan latar panorama laut Pantai Kuta yang ikonik.
Kemeriahan acara semakin terasa melalui beragam pertunjukan seni dan tradisi Nusantara. Para tamu disuguhkan Tari Bali Cendrawasih, Tari Nusantara, Genjekan, Hanoman, hingga Joged Bumbung yang interaktif dan penuh keceriaan. Keunikan perayaan juga diperkuat dengan atraksi Pacu Jalur serta Tabola Bale Flash Mob yang menghadirkan energi kebersamaan dan suasana perayaan yang meriah.
Selain hiburan panggung, Mercure Kuta Beach Bali turut menghadirkan berbagai permainan interaktif yang dirancang untuk mempererat keakraban dan kebersamaan antar tamu, menciptakan momen hangat menjelang detik-detik pergantian tahun.
Sebagai simbol kenangan dari malam istimewa tersebut, setiap tamu menerima New Year Gift berupa gelang kerang. Cinderamata ini melambangkan kedekatan masyarakat pesisir dengan laut, sekaligus menjadi pengingat pentingnya menjaga keseimbangan antara pariwisata, budaya, dan kelestarian alam.

Melalui perayaan Tahun Baru bertema “Kampung Nelayan”, Mercure Kuta Beach Bali tidak hanya menghadirkan pesta pergantian tahun, tetapi juga menyuguhkan narasi reflektif tentang perjalanan Pantai Kuta dari kampung nelayan sederhana hingga menjadi ikon pariwisata dunia, serta komitmen untuk terus melestarikan nilai dan warisan pesisir bagi generasi mendatang.
Menanggapi isu penurunan kunjungan wisatawan ke Bali, Pantri Arini menilai kondisi tersebut tidak tercermin di Mercure Kuta Beach Bali. Ia menyebut tingkat hunian hotel pada malam pergantian Tahun Baru 2026 mencapai sekitar 90 persen atau hampir penuh. Menurutnya, meskipun persaingan antar destinasi pariwisata tidak dapat dihindari, konsep yang mengedepankan kearifan lokal melalui penggunaan elemen tradisional seperti janur dan bambu tetap memiliki daya tarik kuat bagi wisatawan. Terkait anggapan persaingan dengan destinasi luar negeri seperti Thailand dan Vietnam, Pantri Arini menyatakan tidak dapat memberikan komentar lebih jauh.
“Namun saya yakin Bali memiliki nilai dan keunikan yang tidak dimiliki destinasi lain di dunia,” ujarnya. (red)
























































