MANGUPURANEWS – BADUNG, Program transmigrasi yang kembali digencarkan Pemerintah Pusat mendapat apresiasi dari Anggota Komisi III DPRD Badung, Wayan Sandra. Ia menilai program ini bukan ancaman bagi adat dan budaya Bali, melainkan peluang besar bagi krama Bali untuk memperbaiki kesejahteraan ekonomi.
Sandra menjelaskan bahwa kondisi petani di Bali saat ini cukup memprihatinkan. Dengan lahan garapan rata-rata di bawah 30 are dan masa panen setiap tiga bulan, penghasilan mereka dinilai belum memadai untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Karena itu, keberadaan program transmigrasi dinilai sejalan dengan kebutuhan masyarakat akan peluang ekonomi yang lebih luas.
Pemerintah, kata dia, telah menyiapkan berbagai fasilitas bagi peserta transmigrasi, mulai dari lahan pertanian yang luas, hunian, hingga bantuan biaya hidup. Dengan akses lahan hingga dua hektar, ia optimistis masyarakat Bali yang mengikuti program tersebut dapat lebih sejahtera berkat etos kerja yang kuat dan pengalaman mereka di bidang pertanian.
Ia turut mengisahkan keberhasilan keluarga dan kerabatnya dari Canggu yang memilih transmigrasi ke Luwuk, Sulawesi Selatan. Tidak hanya berhasil dalam pertanian, sebagian dari mereka berkembang menjadi pedagang, pelaku usaha transportasi, hingga penyedia jasa alat pertanian. Keberhasilan ini diyakininya sebagai bukti nyata manfaat program transmigrasi.
Terkait isu bahwa transmigrasi akan melemahkan adat dan budaya Bali, Sandra membantahnya. Ia menegaskan bahwa budaya Bali tetap tumbuh di daerah asal, sementara masyarakat yang tinggal di wilayah transmigrasi membawa serta tradisinya dan berpotensi memperluas eksistensi budaya tersebut.
Ia juga menyoroti program Nyoman dan Ketut yang tengah dirancang Pemprov Bali sebagai langkah menjaga keberlanjutan populasi masyarakat Bali dan tradisinya. (red)
























































