JEMBRANA | mangupuranews – Penanganan sampah yang masih bertumpuk di pusat kota Denpasar dinilai mengancam citra pariwisata Bali di mata wisatawan dunia. DPD Partai Demokrat Provinsi Bali mendesak pemerintah agar memutus rantai masalah ini langsung dari sumbernya melalui pengolahan berbasis desa.
Desakan tersebut disuarakan Ketua DPD Partai Demokrat Bali, I Made Mudarta, di sela-sela aksi lingkungan Gerakan Langit Biru di Pura Dang Kahyangan Rambut Siwi, Jembrana, Jumat (14/8/2026). Kegiatan ini digelar untuk memperingati HUT ke-25 Partai Demokrat, HUT ke-81 RI, dan HUT ke-68 Provinsi Bali.

Ancaman di Balik Tumpukan Sampah Kota
Selama ini, sampah dari berbagai wilayah di Bali kerap ditumpuk di ibu kota Denpasar. Akibatnya, wisatawan asing maupun domestik yang melintas sering kali terganggu oleh aroma tak sedap.
Kondisi tersebut dinilai dapat menggerus daya saing Bali sebagai destinasi wisata utama dunia jika tidak segera diintervensi.
“Isu sampah menjadi salah satu faktor yang membuat nilai daya tawar Bali sedikit turun dibandingkan objek wisata lain di dunia. Unggulan kita kan dari sisi adat dan budaya, tapi hari ini harus kita getarkan lagi dari sisi kebersihan. Bersih itu keren,” tegas Mudarta.

Solusi Berbasis Desa: Anggaran dan Teknologi
Bali memiliki 716 desa yang menjadi kunci penyelesaian krisis lingkungan. Menurut Mudarta, sampah mestinya dihancurkan dan diolah habis di tingkat desa agar tidak berpindah ke wilayah lain.
Pemerintah daerah dan pusat diharapkan hadir memberikan mesin serta peralatan pengolahan sampah modern untuk tiap desa. Langkah ini diyakini tidak hanya menyelesaikan masalah ekologi, tetapi juga membuka lapangan kerja dan memutar roda ekonomi warga lokal.
“Sampah mestinya harus selesai di level desa. Kalau pemimpin kita punya pikiran ke sana dan menyiapkan mesin pengolahan sampah di 716 desa, duitnya selalu ada. Ekonomi desa juga ikut bergerak,” tambahnya.

Dimensi Spiritual Pura Rambut Siwi dan Filosofi Merpati
Pemilihan Pura Dang Kahyangan Rambut Siwi sebagai lokasi Gerakan Langit Biru bukan tanpa alasan. Pura yang berdiri sejak 500 tahun lalu ini merupakan tempat pemujaan Tuhan dalam manifestasi Dewa Mahadewa—sang penjaga arah barat Bali dalam konsep Dewata Nawa Sanga.
Aksi kebersihan, penanaman pohon, hingga pelepasan 25 burung merpati dilakukan sebagai bentuk kepedulian lingkungan sekaligus pengamalan filosofi luhur Tri Hita Karana dan Tat Twam Asi.
“Burung merpati adalah simbol kedamaian dan kesetiaan, tidak pernah ingkar janji. Dalam berorganisasi dan membangun daerah, kesetiaan atau loyalitas itu adalah syarat utama,” ujar Mudarta merujuk pada pesan Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
Menutup wawancaranya, Mudarta menegaskan bahwa Demokrat Bali mendukung penuh efisiensi pembangunan infrastruktur, termasuk konektivitas jalan tol di Bali, selama dibarengi dengan komitmen menjaga kelestarian Ibu Pertiwi. (brv)






Tinggalkan Balasan