MANGUPURANEWS – NUSA DUA, ​Pameran industri makanan, minuman, dan hospitality skala internasional, Bali Interfood 2026, resmi dibuka di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC). Gelaran ke-7 yang berlangsung pada 2–4 September 2026 ini menghadirkan 110 peserta dari delapan negara serta memboyong puluhan UMKM lokal untuk memperluas jejaring pasar global. Ajang strategis ini ditargetkan mampu menyedot hingga 15.000 pengunjung bisnis maupun masyarakat umum selama tiga hari penyelenggaraan. ​CEO Krista Exhibitions, Daud D. Salim, menyampaikan bahwa Bali memiliki peran yang sangat strategis dalam perkembangan industri F&B serta pariwisata nasional. Event ini tidak hanya menyasar pelaku usaha di Pulau Dewata, tetapi juga menggaet para profesional, chef, hingga investor dari Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi, hingga mancanegara.

“Bali bukan hanya destinasi wisata, tetapi juga merupakan salah satu pusat pertumbuhan bisnis hospitality dan kuliner di Indonesia. Karena itu, Bali Interfood kami hadirkan sebagai platform yang mempertemukan kebutuhan industri dengan inovasi dan peluang bisnis, sekaligus membuka ruang yang lebih luas bagi pelaku usaha lokal dan UMKM untuk berkembang dan terhubung dengan pasar yang lebih luas,” ungkap Daud D. Salim di sela-sela pembukaan.

​Tak hanya menampilkan bahan baku, pameran tahun ini turut menyoroti adopsi teknologi pangan modern untuk menunjang efisiensi sektor hotel, restoran, kafe, dan bakery. Berbagai peralatan dapur dan pengolahan pangan modern buatan Eropa seperti Jerman dan Italia dipamerkan, termasuk teknologi pendinginan berteknologi tinggi yang dirancang khusus untuk menjaga mutu dan kesegaran hasil laut.

​Dukungan penuh juga mengalir dari Pemerintah Provinsi Bali melalui Staff Khusus Gubernur Bali Bidang Perekonomian dan Keuangan, I Wayan Eka Dina, menegaskan bahwa sektor pariwisata tidak dapat dipisahkan dari kuliner dan kearifan lokal.

“Kami dari Pemerintah Provinsi Bali mengapresiasi dan mendukung kegiatan ini. Kenapa, karena kita adalah Bali, Bali tidak bisa lepas dari pariwisata. Pariwisata tidak bisa kita lepas begitu saja tanpa dukungan dari makanan dan minuman. Sehingga kegiatan ini sangatlah penting, khususnya bagaimana kita memanfaatkan produk lokal kita, bagaimana kita memanfaatkan kearifan lokal kita, khususnya dari bahan bakunya. Kita punya Salak Bali, kita punya Manggis Bali, kita punya Jeruk Bali, dan kita punya juga Garam Bali yang sangat luar biasa,” jelas I Wayan Eka Dina.

​Selama tiga hari, Bali Interfood 2026 diisi dengan agenda padat mulai dari seleksi Gelato World Cup, demo memasak oleh chef kenamaan, workshop wine pairing, kelas menyeduh kopi, sertifikasi profesi BNSP untuk tenaga kuliner, hingga program dialog bisnis langsung antara pembeli dan pemasok. (red-tim)