Mangupuranews – TABANAN, Warga pedesaan di Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, bergotong royong membuka jalan tembus Penebel sepanjang 1,5 kilometer secara swadaya demi memutus keterisolasian akses pendidikan, ekonomi antardusun, dan jalur persembahyangan warga.
Aksi pembukaan jalur tengah ini digerakkan langsung oleh tokoh masyarakat yang juga Ketua PAC partai Demokrat Penebel, I Made Suka Wijaya, bersama warga dari sejumlah banjar sekitar.
Proyek perintisan jalur ini murni mengandalkan tekad dan swadaya masyarakat, tanpa sokongan APBD maupun pengajuan proposal resmi ke pemerintah daerah.

Menembus Tebing Curam, Estimasi Biaya Membengkak Berlipat
Tantangan terbesar di lapangan terletak pada bentang alam perbukitan Penebel yang berlereng curam dan berbatu cadas. Medan terjal tersebut memaksa alat berat memangkas dinding bukit setinggi lebih dari tiga meter untuk meratakan jalan.
Kondisi topografi ekstrem di kawasan Ulun Pangkung membuat laju pengerjaan melambat drastis dari proyeksi awal. Keterlambatan ini berimbas langsung pada tagihan sewa alat berat dan konsumsi bahan bakar yang meroket tajam.
- Rencana Awal: Target pengerjaan dijadwalkan tuntas dalam kurun waktu 6 hari kerja hingga tembus ke Banjar Munduk Dawa.
- Realisasi Lapangan: Alat berat (buldoser dan ekskavator) sudah beroperasi selama 8 hingga 9 hari, namun jalur belum tembus sempurna.
- Lonjakan Biaya: Dari kebutuhan awal yang diperkirakan sekitar Rp34 juta, pengeluaran riil di lapangan telah membengkak menembus lebih dari Rp60 juta hanya dalam sepekan pertama pengerjaan.

Suka Wijaya mengungkapkan, dana patungan yang terkumpul dari bantuan partai Demokrat Bali saat ini mencapai sekitar Rp22 juta. Kondisi tersebut memaksa panitia swadaya menanggung selisih defisit operasional yang kian membesar setiap harinya.
”Medannya memang sangat terjal, kita harus membelah bukit dan meratakan tebing berbatu di Ulun Pangkung agar aman dilalui. Waktu sewa alat berat jadi molor dari jadwal, otomatis biaya operasional membengkak berkali-kali lipat dari hitungan awal,” ungkap Suka Wijaya di sela-sela peninjauan lokasi.
Menuntaskan Amanah Leluhur demi Akses Pendidikan dan Tempat Suci
Jalur yang tengah dibelah ini membentang menghubungkan titik-titik krusial warga pedesaan. Akses ini melintasi Banjar Munduk Dawa, Banjar Pekandelan, Banjar Kayupuring, hingga Banjar Bongli menuju pusat Desa Sangketan.
”Ini sebenarnya amanah para leluhur kami untuk membuka jalan tengah. Jalur ini sangat vital karena memangkas jarak anak-anak kami menuju SD Negeri 6 Penatahan di Sangketan,” jelasnya.

Selain menjadi urat nadi pendidikan anak-anak sekolah, jalur ini berfungsi sebagai jalan pintas peribadatan umat Hindu menuju kawasan suci Pura Luhur Tambowaras dan Pura Luhur Muncak Sari.
”Pura Luhur Tambowaras adalah apotek niskala kita, sedangkan Muncak Sari merupakan pusat sumber mata air kehidupan. Mempermudah pemedek menuju tempat suci adalah tanggung jawab moral kami bersama,” tegasnya.
Terkait ketiadaan peran pemerintah daerah, Suka Wijaya menegaskan bahwa pihaknya sengaja tidak berpangku tangan menunggu birokrasi anggaran.
”Kami belum menyentuh Pemkab Tabanan sama sekali karena memang belum melayangkan proposal resmi. Kami memilih bergerak dulu bersama warga, dan pengerjaan ini akan terus kami lanjutkan sampai tuntas dan aman dilintasi,” pungkasnya.
Meski harus menutupi defisit secara mandiri, pengerjaan pembukaan jalan dipastikan terus berjalan hingga jalur benar-benar dapat dilintasi kendaraan roda dua maupun roda empat dengan aman. (brv)






Tinggalkan Balasan