Mangupuranews – DENPASAR, Sebanyak 80-an pensiunan bandara ex Gapura Angkasa Denpasar menggelar temu kangen di Renoma Garden, Denpasar, Sabtu (12/9/2026). Momentum ini dimanfaatkan untuk merajut kembali silaturahmi sekaligus merintis paguyuban suka duka lintas generasi.
Pertemuan tersebut dihadiri puluhan purna tugas dari lintas unit dan maskapai pendukung, termasuk mantan karyawan Garuda Indonesia. Antusiasme peserta tercatat melampaui 90 persen dari total 97 orang yang terdaftar.
Meleburnya Sekat Hierarki dan Haru Generasi Senior
Sekat struktural yang dahulu membatasi hubungan kerja antara atasan dan bawahan tampak sepenuhnya runtuh. Kehangatan canda tawa menggantikan ketegangan operasional bandara yang puluhan tahun silam menjadi santapan harian mereka.
Suasana haru menyelimuti tempat acara tatkala beberapa purnatugas senior yang telah menginjak usia di atas 70 tahun tetap memaksakan diri untuk hadir. Keterbatasan fisik tak menyurutkan tekad mereka; tampak mantan pejabat pimpinan melangkah perlahan dengan penuh kehati-hatian, berdampingan dengan rekan sejawatnya yang harus bertumpu pada tongkat penyangga demi melepas rindu bersama para sahabat lama.
Ketua Panitia Acara, I Putu Mardita, menegaskan bahwa kehadiran rekan-rekan senior ini menjadi pelecut semangat bagi seluruh peserta.
“Tujuan utama kita semata-mata bagaimana merajut kembali, merangkul kembali, dan mempersatukan bahwa sekian puluh tahun lalu kita pernah berada dalam satu perusahaan yang kita banggakan. Astungkara, sambutan teman-teman sangat luar biasa,” ujar Putu Mardita saat diwawancarai di Renoma Garden, Sabtu (12/9/2026).
Dari Sapaan “Apa Kabar” Menjadi Gerakan Solidaritas Nyata
Inisiatif reuni akbar ini berakar dari gerakan informal unit operasi bertajuk grup “Apa Kabar” pada November tahun lalu di kawasan Tabanan. Dialog sederhana yang awalnya beranggotakan sekitar 30 orang itu berkembang menjadi ruang komunikasi lintas divisi.
Mardita menjelaskan, kebiasaan menanyakan kabar perlahan membuka kembali ruang interaksi sosial yang sempat terputus sejak purnatugas:
- Sapaan sederhana: Kalimat “apa kabar” membuka ruang diskusi tentang kabar keluarga, aktivitas harian, hingga kondisi kesehatan rekan sejawat.
- Pencairan komunikasi birokrasi: Hubungan formal di masa kerja bertransformasi menjadi relasi persaudaraan yang setara dan santai.
- Perluasan jaringan: Inisiatif unit operasi berhasil mengumpulkan purna tugas lintas maskapai dan anak usaha kebandarudaraan.
Menjawab Tantangan Isolasi Sosial Pasca Masa Purnatugas
Masa pensiun kerap menyisakan persoalan laten bagi para pekerja sektor operasional bertekanan tinggi: hilangnya rutinitas kerja harian, memudarnya relasi sosial, serta risiko kesepian (social isolation) di usia senja.
Kondisi fisik yang menurun, seperti masalah persendian lutut dan mobilitas terbatas, sering kali mempersempit ruang gerak para lansia. Tanpa wadah interaksi berkala, purna tugas rentan terasing dari lingkungan yang pernah membesarkan mereka.
Melihat fenomena tersebut, panitia memutuskan tidak menghentikan agenda ini sekadar sebagai ajang nostalgia seremonial. Perkumpulan ini diarahkan menjadi paguyuban berbasis “Suka Duka” yang bersifat luwes tanpa struktur birokrasi kaku.
Fokus jangka panjang yang disepakati meliputi:
-
- Santunan duka dan empati: Kunjungan serta penggalangan donasi sosial saat ada anggota yang tertimpa musibah atau berpulang.
- Dukungan hajatan keluarga: Menghadiri undangan upacara keagamaan, pernikahan anak/cucu, maupun upacara adat para anggota.
- Aksi filantropi sosial: Mengagendakan kunjungan ke panti asuhan serta panti jompo untuk menyalurkan bantuan kepada warga rentan di Bali.
“Ke depannya kita sepakat formatnya tidak terlalu formal agar tidak membebani anggota. Kami ingin wadah ini murni saling menopang dalam suka maupun duka, serta mengetuk pintu hati rekan-rekan untuk aktif berkegiatan sosial di Bali,” tutup Mardita. (brv).






Tinggalkan Balasan