Mangupuranews – DENPASAR, Gubernur Bali Wayan Koster resmi membuka perhelatan Utsawa Dharma Gita Bali 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Jumat (11/9/2026). Agenda budaya tahunan ini difokuskan mencetak SDM unggul sekaligus memulihkan degradasi integritas sosial.
Ajang yang mengusung tema “Dharmagita Atmanam Dharma” ini berlangsung selama enam hari hingga 16 September 2026. Sebanyak 11 bidang lomba dengan 37 kategori digelar untuk menguji pemahaman teks suci serta olah vokal keagamaan Hindu krama Bali.
Ancaman Erosi Integritas di Tengah Arus Modernisasi
Modernisasi dinilai membawa tantangan berat bagi ketahanan moral masyarakat Bali masa kini. Fenomena pergeseran nilai mulai tampak dari merebaknya kasus ketidakjujuran hingga praktik korupsi di ruang publik.

Koster menegaskan, penurunan etika tersebut menjadi alarm penting bagi kelangsungan peradaban daerah. Kendati demikian, ia optimis fondasi kebaikan masyarakat Bali masih jauh lebih dominan.
“Memang ada penurunan dari kesunatian orang Bali. Mulai ada korupsi, ada yang nakal, ada yang jahat. Tetapi yang begitu tidak banyak. Yang masih banyak adalah orang-orang yang baik,” ujar Koster dalam pidato sambutannya.
Akar masalah pergeseran karakter ini ditengarai akibat makin renggangnya interaksi generasi muda dengan literatur klasik. Akibatnya, pemahaman mengenai hakikat hidup berlandaskan dharma perlahan memudar tergerus budaya instan.

Bedah Nilai Luhur: Modal Dasar Menuju Bali 100 Tahun
Riset terhadap naskah peradaban sejak era Bali Kuno memperlihatkan keunggulan jati diri leluhur yang bertumpu pada etos kerja dan moralitas tinggi. Pijakan sejarah inilah yang dijadikan landasan visi Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun.
“Kenapa saya mengangkat SDM Bali unggul? Karena saya membaca berbagai dokumen hasil riset dan buku-buku tentang peradaban Bali, mulai dari Bali Kuno hingga perkembangan Bali sampai sekarang,” ungkap Koster.
Visi pembangunan manusia Bali bersumber langsung dari nilai Nangun Sat Kerthi Loka Bali. Nilai-nilai karakter utama yang ditekankan kembali mencakup:
- Integritas Moral: Berpegang teguh pada prinsip satya serta kejujuran dalam berkehidupan.
- Etos Kerja: Sikap kerja jemet, ulet, rajin, dan tekun dalam menghadapi tantangan.
- Tanggung Jawab Sosial: Menempatkan pemenuhan kewajiban di atas tuntutan hak individu.
“Orang Bali itu jemet, tekun, ulet, rajin, jujur, berpegang pada satya, dan lebih mendahulukan kewajiban daripada hak,” tutur Koster menegaskan.

Rekayasa Ekosistem Budaya Lewat Kompetisi Sastra
Perhelatan UDG tidak lagi ditempatkan sebatas agenda seremonial kalender seni. Panggung ini diarahkan menjadi instrumen edukasi publik guna merawat ekosistem aksara, bahasa, dan sastra daerah.
“Bahasa Bali dan aksara Bali itu adalah ekosistem kehidupan orang Bali,” imbuh Koster.
Sebanyak 11 bidang perlombaan yang digelar tahun ini dirancang mengasah olah pikir serta rasa, antara lain:
- Seni Pembacaan Naskah: Pembacaan Sloka, Palawakya, Kakawin, Kidung, dan Gaguritan.
- Literasi Orasi: Dharmawacana berbahasa Bali, Dharmawacana berbahasa Inggris, serta Dharmacarita.
- Kajian Dialektika: Menghafal Sloka, Nyanyian Keagamaan Hindu, dan debat Dharmawiwada.
Penguatan literasi sastra melalui UDG diharapkan mentransformasi filosofi kuno ke dalam etika perilaku nyata, mencetak generasi berkarakter kokoh yang siap bersaing global tanpa kehilangan jati diri. (Editor: brv)






Tinggalkan Balasan