Mangupuranews – JAKARTA, Pengawasan buronan internasional I-GHAS resmi diterapkan di seluruh pintu perlintasan Indonesia menyusul peluncuran sistem kolaboratif I-GHAS 24/7 oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia bersama Direktorat Jenderal Imigrasi di Rupattama Mabes Polri, Kamis (5/11/2026).

​Sistem mutakhir ini menghubungkan konter pemeriksaan imigrasi secara langsung dengan jaringan data buronan internasional di 196 negara anggota Interpol.

​Langkah strategis ini sekaligus menjawab tantangan laten di wilayah perbatasan: lambatnya verifikasi manual terhadap pergerakan buronan kelas kakap dan pelaku kejahatan terorganisasi lintas batas negara.

​Tutup Celah Verifikasi Manual di Pintu Perbatasan

​Sebelum integrasi sistem ini aktif, konfirmasi status cekal atau red notice individu di perlintasan kerap menghadapi kendala jeda birokrasi dan waktu verifikasi antarinstansi.

​Kehadiran aplikasi Interpol Global Hit Alert System (I-GHAS 24/7) besutan Divisi Hubungan Internasional (Divhubinter) Polri memangkas rantai tersebut menjadi pertukaran data waktu nyata (real-time).

​Direktur Jenderal Imigrasi Hendarsam Marantoko menegaskan pentingnya akurasi dan kecepatan data bagi petugas di garda terdepan.

​”Inisiasi dari Divhubinter untuk membuat I-GHAS 24/7 ini kami sambut dengan sangat baik. Bagaimana sebenarnya kolaborasi komunikasi yang telah terjalin, terutama di daerah-daerah perlintasan, akan terhubung melalui suatu sistem yang benar-benar lebih tepat, lebih cepat, lebih akurat,” ujar Hendarsam di Jakarta.

​Hendarsam menambahkan bahwa pencegahan kejahatan transnasional harus dimulai sejak orang asing menginjakkan kaki di tempat pemeriksaan imigrasi.

​”Komitmen kami bersama, bagaimana kita mempunyai doktrin yang sama, berorientasi yang sama: Imigrasi untuk rakyat, polisi untuk masyarakat,” tuturnya.

​Menangkal Ancaman TPPO hingga Peredaran Narkotika

​Peluncuran sistem ini dihadiri langsung oleh Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto bersama Kadivhubinter Polri Irjen Pol Untung Widyamoko.

​Kapolri menyoroti dinamika kejahatan lintas negara yang kian canggih, mulai dari jaringan tindak pidana perdagangan orang (TPPO) hingga sindikat penyelundupan narkotika internasional.

​”Ini adalah terobosan yang dilakukan secara kolaboratif antara Polri dan Imigrasi Indonesia. Tentunya ini untuk memperkuat pengawasan buronan internasional dan juga pelaku lintas negara di pintu perlintasan Indonesia,” kata Suyudi.

​Operasional sistem ini menitikberatkan pada sejumlah kapabilitas taktis:

  • ​Verifikasi Otomatis: Petugas imigrasi di bandara dan pelabuhan internasional dapat langsung memvalidasi data pelintas dengan basis data buronan Divhubinter Polri.
  • ​Konektivitas Global: Sistem terhubung langsung dengan basis data 196 negara anggota Interpol.
  • ​Penindakan Cepat: Notifikasi otomatis muncul seketika saat terduga pelaku melintasi konter imigrasi, memungkinkan penindakan hukum langsung di lokasi.

​Agenda Pemanfaatan AI dan Biometrik pada 2027

​Integrasi I-GHAS 24/7 saat ini menjadi fondasi awal dari arsitektur digital keamanan perbatasan yang lebih luas.

​Platform ini dijadwalkan menerima pembaruan masif pada 2027 melalui adopsi kecerdasan buatan (artificial intelligence) dan integrasi biometrik wajah serta sidik jari secara penuh.

​Hendarsam memastikan, pengetatan filtrasi pengawasan keamanan ini tidak akan mengorbankan kecepatan maupun kualitas pelayanan publik bagi masyarakat umum.

​”Melalui integrasi data ini, Imigrasi dan Polri berupaya memperketat pengawasan lalu lintas orang di perbatasan tentunya tanpa mengesampingkan kelancaran pelayanan keimigrasian bagi masyarakat,” pungkas Hendarsam.

(editor: brv)