MANGUPURANEWS – JAKARTA, Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) mengajak seluruh masyarakat untuk memaknai peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) 2026 yang jatuh pada 5 November lalu di tengah tantangan krisis tiga planet yang mengancam keanekaragaman hayati. Masyarakat diajak untuk membangun kesadaran bahwa menjaga lingkungan dan ruang hijau di sekitar merupakan bentuk nyata cinta terhadap alam. Mengusung tema “Dari Cinta Menjadi Aksi: Bersama Melestarikan Keanekaragaman Hayati Indonesia”, KLH/BPLH mendorong pelestarian flora dan fauna agar tidak dipandang sekadar sebagai urusan konservasi di kawasan hutan yang jauh, melainkan bagian dari cara merawat rumah tempat tinggal bersama.
Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH, Moh Jumhur Hidayat, menegaskan bahwa kecintaan terhadap alam harus ditransformasikan ke dalam tindakan konkret yang melibatkan seluruh elemen bangsa, mulai dari tingkat keluarga hingga daerah.
“Peringatan ini menjadi kesempatan bagi kita untuk menerjemahkan komitmen global pasca-CBD COP-17 ke dalam aksi nyata di tingkat nasional dan daerah. Semangat ‘Dari Cinta Menjadi Aksi’ perlu diwujudkan melalui penguatan kolaborasi seluruh pemegang kepentingan dalam melindungi spesies, menjaga habitat, serta mendorong partisipasi aktif masyarakat untuk melestarikan keanekaragaman hayati Indonesia,” ujar Menteri Jumhur.
Momentum peringatan tahun ini juga memiliki relevansi strategis pasca-penyelenggaraan Konferensi Para Pihak ke-17 Konvensi Keanekaragaman Hayati (CBD COP-17) di Yerevan, Armenia, yang mengingatkan bahwa komitmen besar untuk menyelamatkan bumi harus dimulai dari langkah-langkah kecil di tingkat lokal. Sebagai salah satu negara megabiodiversitas terbesar di dunia, Indonesia dihadapkan pada tantangan besar, mulai dari tekanan terhadap habitat alami hingga perdagangan ilegal satwa yang membutuhkan kepedulian bersama dari akademisi, dunia usaha, generasi muda, hingga masyarakat di tingkat tapak.

Sebagai bagian dari kampanye edukasi publik HCPSN 2026, KLH/BPLH memperkenalkan dua karakter maskot yang merepresentasikan keterkaitan erat antara satwa, tumbuhan, dan habitatnya, yaitu TORU dan NUR. TORU terinspirasi dari Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis), primata endemik Indonesia berstatus Kritis yang hidup di Ekosistem Batang Toru, Sumatera Utara, sedangkan NUR terinspirasi dari Sampinur Bunga (Dacrycarpus imbricatus) yang menjadi representasi kekayaan flora hutan penopang kehidupan satwa liar. Melalui maskot ini, KLH/BPLH mengingatkan bahwa melindungi satwa tidak cukup hanya dengan menjaga spesiesnya saja, melainkan juga habitat, sumber pangan, dan ekosistem tempat tinggalnya.
Guna mengubah rasa peduli menjadi aksi nyata sehari-hari, KLH/BPLH menggalakkan Gerakan Cinta Kehati 2026 melalui tiga langkah bersahabat, yaitu mengenal keanekaragaman hayati dengan mengenal lebih dekat kekayaan flora dan fauna asli Indonesia, mencintai keanekaragaman hayati dengan menumbuhkan kepedulian dari hal-hal kecil di sekitar rumah, serta bertindak untuk keanekaragaman hayati dengan terlibat langsung dalam aksi nyata seperti tidak membeli satwa liar peliharaan hasil tangkapan alam, menanam pohon lokal, dan melaporkan perusakan lingkungan. Gerakan ini dirancang sejalan dengan target global Kunming-Montreal Global Biodiversity Framework (KM-GBF) untuk membalikkan tren kehilangan alam pada tahun 2030 serta berpedoman pada Strategi dan Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati Indonesia (IBSAP) 2025-2045. KLH/BPLH mengajak masyarakat menjadikan momentum ini sebagai pengingat untuk terus merawat bumi pertiwi agar tetap hijau dan lestari. (red-tim)






Tinggalkan Balasan