MANGUPURANEWS – BADUNG, Ketidakpastian geopolitik global dan tekanan inflasi dunia menjadi tantangan serius bagi industri pariwisata internasional. Meski demikian, Indonesia terus berupaya memperkuat posisinya sebagai destinasi unggulan sekaligus mitra bisnis pariwisata yang kredibel di mata dunia.
Kementerian Pariwisata (Kemenpar) pun menyiapkan lima strategi utama untuk menjaga stabilitas sektor pariwisata nasional sekaligus mengamankan target devisa negara. Langkah tersebut diperkuat melalui pelaksanaan Bali and Beyond Travel Fair (BBTF) ke-12 tahun 2026 yang berlangsung di Nusa Dua, Badung, Bali.
Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana, mengatakan kondisi pariwisata Bali maupun Indonesia secara umum masih menunjukkan ketahanan di tengah gejolak global. Menurutnya, konflik di sejumlah kawasan dunia, termasuk Timur Tengah, memang berdampak terhadap industri penerbangan dan pergerakan wisatawan internasional.
“Perang di Timur Tengah berdampak pada banyak negara di seluruh dunia, tidak hanya Indonesia. Harga tiket pesawat global ikut meningkat dan ada beberapa pembatalan penerbangan dari kawasan Timur Tengah yang turut memberikan pengaruh,” ujar Widiyanti.
Ia menegaskan, BBTF menjadi momentum penting untuk memperluas promosi pariwisata Indonesia sekaligus menjaga minat wisatawan mancanegara agar tetap tinggi di tengah dinamika global saat ini.
Lima Strategi Kemenpar
Dalam menghadapi potensi penurunan pasar akibat konflik geopolitik dunia, Kemenpar menerapkan lima strategi utama.
Pertama, melakukan diversifikasi pasar dengan memperluas promosi ke negara dan kawasan yang relatif stabil, termasuk negara-negara tetangga. Kedua, memperkuat sektor wisatawan nusantara (wisnus) guna menjaga pergerakan ekonomi domestik agar target nasional tetap tercapai.
Strategi berikutnya adalah fokus pada wisatawan berkualitas atau high-spending tourists yang memiliki daya beli tinggi dan cenderung lebih tahan terhadap krisis ekonomi global. Selain itu, pemerintah juga menempatkan aspek keselamatan dan keamanan wisatawan sebagai prioritas utama melalui pelayanan prima dan jaminan rasa aman selama berada di Indonesia.
Strategi kelima dilakukan melalui promosi tematik yang diperluas secara berkelanjutan ke negara-negara yang tidak terdampak langsung oleh konflik global.
Widiyanti menjelaskan, penguatan promosi kini difokuskan ke kawasan Asia Tenggara, Asia Timur, Oceania, hingga India. Menurutnya, pasar-pasar tersebut menunjukkan pertumbuhan signifikan dalam beberapa bulan terakhir.
“Kami terus bekerja membuka rute baru bersama maskapai, Kementerian Perhubungan, dan lintas kementerian maupun lembaga untuk menyiasati harga tiket pesawat,” katanya.
BBTF Perkuat Kepercayaan Pasar Internasional
Optimisme terhadap pariwisata Indonesia tercermin dari tingginya partisipasi dalam BBTF 2026. Event internasional tersebut menghadirkan lebih dari 407 buyer dari 44 negara yang dipertemukan dengan 286 seller dari 13 provinsi di Indonesia.
Chairman BBTF 2026 sekaligus Ketua ASITA Bali, I Putu Winastra, menilai BBTF bukan sekadar forum transaksi bisnis jangka pendek, tetapi menjadi ruang membangun kemitraan strategis pariwisata berkelanjutan.
“Buyer yang hadir merupakan pelaku industri pariwisata yang memiliki reputasi, jaringan distribusi global, dan kewenangan mengambil keputusan. Satu buyer bahkan berpotensi mendatangkan ribuan wisatawan ke Indonesia setiap tahun,” ujar Putu Winastra.
Ia menambahkan, melalui BBTF, Bali dan Indonesia ingin diperkuat citranya bukan hanya sebagai destinasi indah, tetapi juga mitra pariwisata yang terpercaya, kompetitif, dan bernilai tinggi di pasar internasional.
Angkat Gastronomi dan Konsep Multi-Destinasi
BBTF 2026 juga menghadirkan pendekatan berbeda dengan mengangkat tema gastronomi sebagai bagian dari diplomasi budaya dan warisan berkelanjutan. Tradisi makan bersama khas Bali, Megibung, turut dihadirkan sebagai simbol kebersamaan dan kekayaan budaya lokal.
Selain itu, konsep multi-destinasi juga diperkuat dengan melibatkan DKI Jakarta sebagai co-host. Setelah agenda business meeting selesai, para buyer dijadwalkan mengikuti program post-tour ke sejumlah destinasi potensial seperti Lombok, Kepulauan Seribu, hingga desa wisata di Bali.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pemerataan dampak ekonomi pariwisata nasional. Pemerintah kini menitikberatkan pembangunan sektor pariwisata tidak hanya pada jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga pada kualitas wisata, kepercayaan pasar internasional, dan pemerataan manfaat ekonomi di berbagai daerah. (red/ich)
























































