MangupuranewsDENPASAR, Eksplorasi paleografi Nusantara di Bali menjadi instrumen vital untuk memperkuat akar literasi kuno sekaligus membentengi generasi muda dari krisis identitas dan jawaban keagamaan yang dogmatis.

​Komitmen tersebut mengemuka dalam seminar bertajuk “Eksplorasi Paleografi Nusantara: Menelusuri Jejak Sejarah dan Evolusi Aksara Tradisional” yang dihelat Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) Korda Bali di Gedung PHDI Provinsi Bali, Jalan Ratna, Denpasar, Sabtu (19/9/2026).

​Acara yang digelar secara hibrida ini diikuti oleh 187 peserta dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Jakarta dan NTB, dengan sekitar 40 peserta hadir daring di lokasi acara.

Kakanwil Kemenag Provinsi Bali Dr. I Gusti Made Sunartha, S.Ag., M.M. memukul gong didampingi Ketua Umum PSN Pusat Jro Gede Pastika, S.Pd., M.Sos. (kedua dari kanan) dan panitia sebagai tanda resmi dibukanya Seminar Eksplorasi Paleografi Nusantara di Gedung PHDI Provinsi Bali, Denpasar.

Meninggalkan Budaya Dogma ‘Mula Keto’

​Ketua Umum PSN Pusat, Jro Gede Pastika, S.Pd., M.Sos., menegaskan bahwa pinandita dan pemangku adalah garda terdepan pelayanan keagamaan. Karena itu, rohaniwan masa kini dituntut memiliki wawasan sastra yang kuat dan argumen berbasis logika.

​”Jangan sampai jawaban kita hanya ‘mula keto’ (memang dari sananya begitu) saat menghadapi pertanyaan anak-anak muda yang kritis. Kita harus mampu menjelaskan dasar sastra, filosofi, serta sejarahnya dengan logika yang jelas,” ujar Jro Gede Pastika.

​Ia memaparkan, ragam aksara di Nusantara—mulai dari aksara Bali, Jawa (Hanacaraka), hingga Sunda—bermuara dari rumpun aksara Dewanagari dan Pallawa sebelum berevolusi menjadi local genius Nusantara. Ia juga mengingatkan agar aksara tidak diseret ke ranah politis atau prasangka kelompok tertentu.

Ketua Umum Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) Pusat Jro Gede Pastika, S.Pd., M.Sos. memaparkan materi utama terkait evolusi aksara tradisional di podium Gedung PHDI Provinsi Bali, Denpasar.

Beberapa pesan substantif yang digarisbawahi oleh Jro Gede Pastika:

  • Netralitas aksara: Aksara merupakan warisan peradaban yang objektif dan tidak boleh dikotak-kotakkan oleh sentimen golongan atau sampradaya.
  • Konteks upakara Bali: Penulisan aksara suci untuk kepentingan upakara dan ritual di Bali tetap berakar kokoh pada aksara Bali murni.
  • Tradisi belajar sepanjang hayat: Pemangku dituntut terus membaca naskah klasik agar relevan menjawab tantangan zaman.

Ancaman Disrupsi Karakter dan Tantangan Digital

​Senada dengan hal tersebut, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali, Dr. I Gusti Made Sunartha, S.Ag., M.M., menilai pengenalan paleografi kuno sangat mendesak di tengah ancaman lunturnya kepribadian anak muda.

​”Jika boleh saya sampaikan secara jujur, karakter anak-anak kita saat ini sudah terdisrupsi dan tercerabut dari akarnya. Kita membutuhkan program yang tersistem, terencana, dan berkelanjutan untuk mentransformasikan nilai adat, seni, budaya, dresta, dan agama,” tegas Sunartha.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali Dr. I Gusti Made Sunartha, S.Ag., M.M. memberikan sambutan dalam Seminar Eksplorasi Paleografi Nusantara di Gedung PHDI Provinsi Bali

Sunartha menguraikan bahwa Pulau Dewata sejak masa silam merupakan simpul perlintasan jalur perdagangan dunia yang menyerap bahasa Kawi, Melayu, hingga Sanskerta. Khazanah susastra kuno Bali menyimpan pedoman etika luhur, tatanan sosial, hingga ajaran spiritualitas tingkat tinggi yang komprehensif.

​”Adat, seni, budaya, dresta, dan agama Hindu di Bali berpadu dalam satu tarikan napas. Agama menjiwai adat, sementara seni dan budaya menjadi wadah ekspresinya,” tambah Sunartha.

Adaptasi Teknologi dan Penguatan Kapasitas Rohaniwan

​Ketua PSN Korda Bali, I Wayan Dodi Arianta, menjelaskan bahwa seminar ini sekaligus menjadi wadah penjernihan kajian simbolis organisasi yang memuat aksara Omkara Dewanagari.

​”Melalui seminar ini, setidaknya kita mengenal berbagai aksara dan sejarahnya di Nusantara, sehingga para pemangku dapat memahami serta memaknai jejak-jejak sejarah tersebut,” tutur Dodi.

Ketua Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) Korda Bali I Wayan Dodi Arianta
memberikan keterangan pers mengenai relevansi paleografi Nusantara dan adaptasi dakwah digital bagi kalangan milenial di Gedung PHDI Provinsi Bali, Denpasar.

Dodi menambahkan, PSN Bali kian aktif beradaptasi merangkul generasi milenial dan Gen Z melalui beberapa strategi:

  • Digitalisasi syiar: Pemanfaatan platform media sosial dan eksplorasi potensi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam dakwah keagamaan.
  • Pendalaman teologi: Membuka ruang kajian Brahmavidya yang kontekstual bagi anak muda.
  • Bahan Mahasabha: Menjadikan seluruh telaah kritis seminar ini sebagai rujukan materi resmi pada Mahasabha PSN Pusat mendatang.

​Kakanwil Kemenag Bali, Sunartha, turut mengapresiasi peran PSN yang mewadahi rohaniwan tingkat ekajati (pinandita/pemangku) secara nasional. Menurutnya, standarisasi kompetensi dan pemahaman paleografi mutlak diperlukan agar rohaniwan mampu melayani umat secara profesional dengan tetap memegang prinsip desa kala patra.

Kolaborasi antara pemangku adat, rohaniwan, dan pemerintah ini menjadi sinyal kuat bahwa warisan literasi Nusantara bukan artefak mati di lembar lontar. Di tangan para pinandita yang kompeten dan adaptif, aksara leluhur bertransformasi menjadi pedoman hidup yang terus hidup, menyatukan umat, dan menginspirasi peradaban Nusantara. (brv)