MANGUPURANEWS – BULELENG, Dalam wawancara dengan sejumlah awak media, Anak Agung Ngurah Ugrasena menyampaikan pandangan tegas terkait wacana pembangunan Bandara Internasional Bali Utara dan rencana penetapan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang diarahkan ke wilayah Bali Barat. Ia menegaskan tidak sepakat apabila proyek tersebut dipindahkan ke barat, karena langkah itu tidak mencerminkan visi “Membangun Bali”, melainkan sekadar memindahkan pembangunan di dalam wilayah Bali tanpa menyentuh akar pemerataan.
Ugrasena juga mengingatkan bahwa rencana tersebut tidak sejalan dengan RPJMN Nomor 12 Tahun 2025, serta berpotensi menimbulkan dampak sosial yang signifikan mengingat Bali Barat berbatasan langsung dengan Banyuwangi, Jawa Timur. “Apakah sudah dipikirkan konsekuensi sosialnya?” ujarnya.
Kekhawatiran lain muncul karena lokasi tersebut berada di kawasan sensitif Taman Nasional Bali Barat, hutan lindung yang diakui UNESCO. Di wilayah ini terdapat Pura Segara Rupek, Pulau Menjangan, serta berbagai situs sakral lain yang rawan terdampak. Selain itu, ekosistem laut berupa hutan bakau, taman laut, dan terumbu karang juga berada dalam zona yang dilindungi. “Jangan sampai ada penggusuran atau kerusakan terhadap pura dan situs suci,” tegasnya.
Ia mengajak masyarakat Buleleng dan masyarakat Bali pada umumnya untuk bersikap cerdas dan kritis dalam menyikapi gagasan tersebut. Ugrasena kembali menekankan bahwa yang diperjuangkan adalah Bandara Internasional Bali Utara, bukan Bali Barat, karena keputusan ini akan menjadi warisan panjang bagi anak cucu.
Dalam wawancara itu, ia juga menyoroti ketimpangan pembangunan Bali yang masih condong ke selatan. Wilayah utara, Karangasem, dan Bangli masih menjadi daerah dengan tingkat kemiskinan tinggi serta tertinggal dalam industri pariwisata. “Kalau yang tertinggal ada di utara dan timur, mengapa pembangunan justru diarahkan ke barat?” katanya.
Ugrasena mendorong seluruh komponen masyarakat, akademisi, hingga para pemangku kepentingan di daerah dan di pusat untuk duduk bersama, menelaah secara profesional, holistik, dan komprehensif agar keputusan tidak diambil secara tergesa-gesa.
“Mari kita kaji bersama dengan jernih dan terbuka. Ini tentang masa depan Bali,” pungkasnya. (red)























































