Mangupuranews – Badung, Dinas Pertanian dan Pangan (Diperpa) Kabupaten Badung mengantisipasi ancaman kelangkaan dan lonjakan harga cabai menjelang musim hujan. Pemerintah setempat memicu penanaman cabai secara masif di lahan seluas 42 hektare yang tersebar di Mengwi, Abiansemal, dan Petang.
Langkah strategis ini menargetkan total produksi mencapai 420 ton cabai hingga akhir tahun. Penanaman dijadwalkan berlangsung secara bertahap mulai Agustus hingga Desember 2026 untuk memutus siklus kelangkaan tahunan.
Strategi Subak Lepud dan Pemilihan Varietas Unggul
Gerakan tanam skala besar ini diawali dari Subak Lepud, Desa Baha, Mengwi, yang menggarap lahan seluas 4 hektare. Pemilihan lokasi ini diposisikan sebagai percontohan efisiensi pengelolaan lahan komunal di kawasan Mengwi.

Pengelolaan teknis di Subak Lepud melibatkan kolaborasi lintas petani lokal:
- Pembagian Wilayah: Lahan dibagi ke dalam 8 munduk, di mana masing-masing munduk mengelola 50 are.
- Tenaga Kerja: Melibatkan sekitar 80 petani lokal (10 petani per munduk).
- Varietas Benih: Menggunakan varietas Caliber yang tahan cuaca ekstrem.
- Target Panen: Lahan Subak Lepud diproyeksikan menyumbang 40 ton cabai pada Oktober hingga November 2026.
Kepala Diperpa Badung, A.A. Ngurah Raka Sukadana, SP., M.Si., menegaskan bahwa persiapan infrastruktur dan pemupukan lahan telah rampung sejak akhir Juli.
”Total target produksi 10 ton per hektare dikali 42 hektare, jadi ditargetkan produksi 420 ton. Rencana tanggal 26 kalau benih sudah siap tanam akan dilaksanakan gerakan tanam cabai,” ujar Raka saat dikonfirmasi, Rabu (19/8/2026).
Pemetaan Lahan Pengembangan Cabai di 3 Kecamatan
Untuk menjamin ketersediaan pasokan secara merata, Diperpa Badung membagi sebaran penanaman ke dalam wilayah teknis subak di tiga kecamatan utama.
1. Kecamatan Mengwi (16 Hektare)
- Subak Lepud (4 ha) & Subak Perang (2 ha)
- Subak Guming (2 ha) & Kelompok Manik Pertiwi (2 ha)
- Kelompok Bina Mandiri (2 ha) & Subak Babakan (2 ha)
- Babakan Sorangan (2 ha), Tinjak Menjangan (1 ha), & Kelompok Tani Merta Nadi (1 ha)
2. Kecamatan Abiansemal (8 Hektare)
- Subak Blahkiuh (2 ha)
- Subak Citra (2 ha)
- Subak Tanah Putih (2 ha)
- Subak Umasangiang (2 ha)
3. Kecamatan Petang (16 Hektare)
- Subak Wana Sari (5 ha)
- Subak Semanik Sari (5 ha)
- Subak Sedana Winangun (5 ha)
- Subak Munduk Samuan (1 ha)
Mitigasi Tengkulak dan Stabilisasi Pasar
Ancaman utama komoditas cabai selama musim hujan tidak hanya terletak pada risiko gagal panen akibat cuaca ekstrem, tetapi juga permainan harga di tingkat rantai pasok. Ketika pasokan menipis, rantai distribusi yang terlalu panjang kerap membuat harga di tingkat konsumen melambung tinggi, sementara petani tidak mendapat keuntungan proporsional.
Guna mengatasi potensi permainan tengkulak dan menjaga keterjangkauan harga pasar, Pemkab Badung menyiapkan skema penyerapan pasca-panen terintegrasi.
”Strategi kami menjalin dan menggandeng kerja sama dengan Perumda Pasar dan Pangan Giri Mangu Sedana untuk membeli hasil panen petani, di samping petani menjual ke pengepul maupun langsung memasarkan ke pasar,” kata Raka menjelaskan solusi rantai pasok tersebut.
Melalui intervensi BUMD ini, Perumda Pasar bertindak sebagai offtaker (pembeli siaga) yang menyerap hasil panen dengan harga acuan yang stabil. Langkah ini diharapkan tidak hanya mengamankan stok cabai bagi masyarakat Badung saat musim hujan tiba, tetapi juga melindungi tingkat pendapatan 80 lebih petani yang terlibat dalam program penanaman ini. (editor: brv)






Tinggalkan Balasan