Dugaan Premanisme Disebut Terjadi dalam Sengketa Proyek Marina Bay City di Lombok

img 20260316 wa0038
Ilusrtrasi
banner 468x60

MANGUPURANEWS – LOMBOK, Sengketa bisnis terkait pembangunan proyek Marina Bay City di Sekotong, Lombok, Nusa Tenggara Barat, kembali mencuat setelah muncul klaim dugaan intimidasi yang dialami salah satu pihak yang terlibat dalam proyek tersebut.

Komisaris sekaligus pemegang saham PT Marina Bay Investments, Jamie McIntyre, melalui kuasa hukumnya Komang Ari Sumartawan, SH, menyampaikan bahwa polemik yang sebelumnya terjadi di internal perusahaan antara dirinya dan Adrian James Campbell sempat menunjukkan perkembangan menuju penyelesaian. Menurutnya, sejumlah tahapan telah dijalankan berdasarkan kajian konsultan serta evaluasi profesional yang menghasilkan rekomendasi berbasis data, teknis, dan ketentuan hukum yang berlaku.

Bacaan Lainnya
banner 300250

Namun, perkembangan terbaru disebut kembali memunculkan ketegangan dalam sengketa tersebut. McIntyre mengklaim menerima sejumlah bentuk intimidasi yang diduga berkaitan dengan konflik bisnis yang sedang berlangsung.

img 20260316 wa0039
Jamie McIntyre, pemegang saham PT Marina Bay Investments, yang menyampaikan klaim dugaan penyimpangan dana investor dalam sengketa bisnis dengan Adrian James Campbell.

Menurut McIntyre, beberapa orang yang disebut sebagai “preman lokal” datang ke proyek lain yang sedang ia kembangkan di Bali dalam beberapa hari terakhir. Proyek tersebut disebut tidak memiliki keterkaitan dengan proyek Marina Bay City di Lombok maupun perusahaan pengembangnya.

Selain itu, McIntyre juga mengaku menerima pesan melalui aplikasi WhatsApp yang dikirim oleh Adrian Campbell. Dalam pesan tersebut, Campbell disebut menuliskan kalimat bernada ancaman yang berbunyi, “Jangan lupa tersenyum. Aku akan menikmati apa yang akan terjadi selanjutnya. Sandiwara Anda telah berakhir dengan kehancuran.”

Tak lama setelah itu, McIntyre juga menerima sejumlah pesan WhatsApp lain dari akun yang terdaftar pada nomor telepon Australia dengan nama “Jay Dee”. Pesan tersebut diduga dikirim dari Thailand, tempat Adrian Campbell disebut saat ini berada.

Dalam pesan tersebut terdapat pernyataan yang merujuk pada dugaan penggunaan anggota geng motor yang disebut sebagai “Black Shirts” untuk melakukan intimidasi terhadap McIntyre. Namun hingga saat ini klaim tersebut masih sebatas pernyataan dari pihak McIntyre.

Menurut tim hukum Jamie McIntyre, pihaknya juga telah menerima hasil investigasi profesional yang dilakukan di Australia terkait identitas pihak yang diduga mengirim pesan menggunakan nama profil “Jay Dee” tersebut. Hasil investigasi tersebut disebut diterima pada hari ini sebagai bagian dari penelusuran terhadap sumber pesan yang diduga berkaitan dengan rangkaian intimidasi yang diklaim dialami McIntyre.

Tim hukum McIntyre menyebutkan bahwa hasil tersebut merupakan ringkasan dari proses investigasi profesional yang dilakukan oleh pihak independen di Australia.

Menurut McIntyre, rangkaian dugaan intimidasi tersebut muncul setelah tim hukumnya di Indonesia secara resmi meminta sejumlah dokumen keuangan terkait dana investor yang berkaitan dengan proyek Marina Bay City.

Permintaan tersebut dilaporkan telah disampaikan kepada Adrian Campbell, kuasa hukum Campbell di Jakarta, serta Hilton Wood yang disebut sebagai Kepala Bagian Keuangan Kinnara.

Dokumen yang diminta meliputi laporan rekening bank, catatan investor, dokumentasi transfer dana, riwayat transaksi, serta dokumen keuangan lain yang berkaitan dengan aliran dana investasi proyek tersebut.

McIntyre menyatakan bahwa hingga kini pihaknya belum menerima dokumen yang diminta. Ia menilai transparansi laporan keuangan merupakan langkah penting untuk menjawab pertanyaan para investor terkait penggunaan dana yang telah disetorkan.

Sengketa ini sendiri bermula dari perpecahan antara McIntyre dan Campbell dalam perusahaan yang dibentuk untuk mengembangkan proyek Marina Bay City di Lombok. Perselisihan tersebut muncul setelah adanya tuduhan mengenai dugaan penyalahgunaan dana investor.

Menurut McIntyre, dana investasi yang sebelumnya dibayarkan oleh investor kepada perusahaan Kinnara di Australia sebagian besar belum ditransfer ke PT Marina Bay Investments sebagai perusahaan pengembang proyek tersebut.

Ia juga menegaskan bahwa PT Marina Bay Investments saat ini dikendalikan oleh direktur asal Indonesia yang ditunjuk melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), dan bukan berada di bawah kendali dirinya secara langsung.

Hingga saat ini, menurut McIntyre, pertanyaan utama yang masih belum terjawab adalah terkait laporan rekening bank dan keberadaan dana investor yang disebut mencapai jutaan dolar.

Sejumlah pihak yang mengikuti perkembangan kasus ini menilai bahwa penyampaian dokumen keuangan yang diminta dapat menjadi langkah paling efektif untuk menyelesaikan polemik yang terjadi serta memberikan kejelasan kepada para investor.

Sementara itu, sengketa antara kedua pihak masih terus bergulir dan belum ada penyelesaian final terkait pengelolaan maupun pertanggungjawaban dana investasi dalam proyek tersebut. (red)

banner 728x90

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses