Mangupuranews – DENPASAR, Permata Bank menekankan pentingnya strategi investasi adaptif bagi investor Bali dalam forum Wealth Wisdom 2026 pada Rabu (16/9/2026) guna menjaga ketahanan portofolio di tengah lonjakan ekonomi lokal serta bayang-bayang ketidakpastian pasar global.
Pertumbuhan ekonomi Bali menunjukkan tren positif yang signifikan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Bali pada triwulan II 2026 tumbuh 5,78% secara tahunan (year-on-year) dengan nilai mencapai Rp89,27 triliun. Sektor penyediaan akomodasi dan makan minum tetap menjadi penopang utama dengan kontribusi 21,91%.
Meski sektor pariwisata terus mencatatkan ekspansi, pelaku pasar kini dihadapkan pada dilema konsentrasi aset. Ketergantungan ekonomi lokal pada satu sektor berisiko menimbulkan kerentanan saat terjadi guncangan eksternal. Tanpa strategi mitigasi yang fleksibel, perubahan inflasi, suku bunga, dan likuiditas dunia berpotensi menekan nilai riil aset para pemodal daerah.
Direktur Consumer & Branch Banking Permata Bank, Eddie Sajoga, menyatakan bahwa momentum ekspansi daerah harus diimbangi dengan kesiapan menghadapi fluktuasi global.
”Bali mengingatkan kita akan pentingnya menjaga keseimbangan di tengah perubahan. Nilai tersebut sejalan dengan tema Wealth Wisdom tahun ini, Finding Balance, Building Resilience. Kami ingin terus mendampingi nasabah untuk menghadapi perubahan, menjaga apa yang berharga, dan memanfaatkan peluang untuk tumbuh bersama,” jelas Eddie.

(Foto: Dok. Permata Bank)
Menakar Sentimen Global dan Sektor Teknologi
Kondisi ekonomi global saat ini membawa dampak rambatan langsung terhadap pasar keuangan domestik. Evaluasi berkala terhadap fundamental instrumen menjadi langkah krusial bagi para pemodal.
Financial Educator, Gema Goeyardi, menyoroti pentingnya pembacaan indikator makroekonomi sebelum mengeksekusi alokasi dana.
”Di tengah kondisi ekonomi yang terus berubah, kemampuan beradaptasi menjadi semakin penting. Investor perlu memahami bagaimana perubahan makroekonomi dapat memengaruhi berbagai sektor dan aset sebelum menentukan ke mana dana akan dialokasikan,” tegas Gema.
Director Batavia Prosperindo Aset Management, Eri Koesnadi, menambahkan bahwa sentimen kebijakan moneter global dan perkembangan teknologi kini menjadi penggerak utama likuiditas.
”Pasar bersifat dinamis dan tidak ada satu kondisi yang dapat dipastikan akan berlangsung selamanya. Karena itu, investor perlu melihat berbagai indikator secara menyeluruh, mulai dari perkembangan inflasi, suku bunga, harga energi, kebijakan fiskal hingga arah perekonomian domestik dan global sehingga dapat menyusun strategi yang lebih adaptif terhadap perubahan,” papar Eri.
Secara rinci, beberapa faktor utama yang perlu diperhatikan investor dalam menyusun portofolio meliputi:
- Fluktuasi harga energi dunia dan dampaknya terhadap inflasi domestik.
- Arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat serta dampaknya pada nilai tukar.
- Dinamika investasi sektor teknologi mutakhir, khususnya ekosistem kecerdasan buatan (AI).
Menanggapi kompleksitas tersebut, Permata Bank mendorong pendekatan pengelolaan kekayaan yang holistik lintas generasi. Rangkaian kegiatan edukasi ini dijadwalkan berlanjut ke sejumlah kota besar lain, yaitu Medan, Bandung, Surabaya, dan Jakarta. (editor: brv)






Tinggalkan Balasan