Mangupuranews – DENPASAR, Pemerintah Kota Denpasar mulai memfokuskan revitalisasi ruang pejalan kaki di Kawasan Heritage Gajah Mada usai rampung menata kawasan Sanur. Langkah pembenahan pedestrian ini dibahas mendalam lewat diskusi publik Bali Bicara: Yang Kita Bicarakan Ketika Kita Membicarakan Pejalan Kaki di Graha Yowana Suci, Denpasar, Sabtu (19/9/2026).
Forum kolaborasi WRI Indonesia, Koalisi Bali Emisi Nol Bersih, dan Penerbit Partikular ini mempertemukan unsur birokrasi, komunitas, akademisi, hingga kelompok disabilitas.
Keterlibatan lintas elemen tersebut mendesak integrasi trotoar yang aman, nyaman, dan berdaya guna secara ekonomi.

Rasio Trotoar Masih 30,93 Persen: Prioritas Berbasis Riset
Kondisi infrastruktur pejalan kaki di ibu kota Provinsi Bali ini diakui masih menghadapi tantangan ketimpangan jalur koneksi.
Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Denpasar, Ida Ayu Trisuci Arnawati, memaparkan data jaringan jalan yang ada saat ini.
“Total panjang jalan di Denpasar mencapai 542,71 kilometer, namun rasio yang terkoneksi oleh trotoar baru sekitar 30,93 persen. Saat ini penataan berlangsung di area Gajah Mada untuk menghadirkan ruang bergerak yang lebih humanis sekaligus memperkuat aksesibilitas inklusif,” papar Trisuci.
Tantangan keterbatasan penataan serentak itu diamini oleh Urban and Transport Analyst WRI Indonesia, Fairuzia Rahman.
Menurut Fairuzia, intervensi trotoar di Denpasar memerlukan penentuan skala prioritas melalui indeks walkability.
- Konektivitas Kawasan: Saat ini baru 63 persen kawasan komersial dan permukiman di Denpasar yang terhubung trotoar.
- Tolok Ukur Keberhasilan: Revitalisasi trotoar terbukti memicu lonjakan ekonomi, seperti di Malioboro, Yogyakarta yang mencatat kenaikan wisatawan hingga 483 persen.
- Dampak Bisnis di Bali: Penataan jalur pedestrian di Jalan Danau Tamblingan, Sanur, berhasil mendongkrak pengunjung langsung (walk-in) kafe lokal hingga 30 persen.

Natural Surveillance dan Potensi Koridor Ekonomi Kreatif
Peluang transformasi Gajah Mada dinilai sangat strategis untuk mengubah wajah kota tua menjadi koridor ekonomi kreatif.
Penulis sekaligus pemilik Penerbit Partikular, Juli Sastrawan, menekankan bahwa laju pejalan kaki memberi paparan visual langsung terhadap toko fisik di kawasan bersejarah.
“Dari riset downtown walkability, toko fisik tidak akan bertahan di kawasan yang semata-mata berorientasi kendaraan bermotor. Merujuk Teori Eyes on the Street dari Jane Jacobs, trotoar yang hidup memicu fungsi kontrol sosial alami (natural surveillance) yang menghadirkan rasa aman,” tegas Juli.
Seniman asal Banjar Gemeh, Marmar Herayukti, menambahkan bahwa trotoar bukan sekadar infrastruktur transportasi, melainkan medium interaksi kebudayaan.
“Pedestrian yang baik menjadi atraksi kota, memantik ide, dan membuka peluang ekonomi warga lokal. Ruang publik di Heritage Gajah Mada harus diaktivasi pascapenataan agar denyut kebudayaan terus hidup,” ujar Marmar.

Ujian Akses Inklusif: Catatan Disabilitas dan Keamanan
Meskipun menyambut baik proyek penataan, sejumlah warga dan pegiat mobilitas memberikan catatan kritis terhadap kondisi lapangan saat ini.
- Permukaan Kasar dan Sempit: Peserta diskusi, Kaira, mengeluhkan material trotoar Gajah Mada yang belum ramah bagi pejalan kaki biasa maupun penyandang disabilitas.
- Kebutuhan Fasilitas Kursi Roda: I Wayan Juniartha (Bli Jigo), penyandang disabilitas daksa, mendesak penyediaan pohon peneduh, kamera pengawas (CCTV), serta ramp kursi roda yang layak.
- Aspek Keselamatan Lalu Lintas: Perwakilan Forum Diskusi Transportasi Bali, Bagus Krisnayana, menyoroti fasilitas penyeberangan (pelican cross) yang kerap mati serta minimnya pengaturan laju kecepatan kendaraan bermotor.
Rangkaian masukan dari forum warga ini diharapkan menjadi acuan nyata bagi Pemkot Denpasar agar pembangunan fisik benar-benar menjawab hak dasar masyarakat di ruang publik. (editor: brv)






Tinggalkan Balasan