92 Persen Konsumen Bali dan Yogyakarta Peduli Lingkungan, Pariwisata Regeneratif Kian Menguat

img 20260601 wa0178
banner 468x60

MANGUPURANEWS – DENPASAR, Kesadaran masyarakat terhadap isu lingkungan terus meningkat dan kini menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi arah perkembangan industri pariwisata. Temuan riset terbaru menunjukkan bahwa sebanyak 92 persen konsumen di Bali dan Yogyakarta memiliki kepedulian tinggi terhadap aspek keberlanjutan lingkungan.

Tingginya kesadaran tersebut mendorong pelaku industri pariwisata, khususnya sektor perhotelan, kafe, dan restoran, untuk beradaptasi dengan tuntutan pasar yang semakin mengutamakan produk dan layanan ramah lingkungan. Salah satu langkah strategis yang kini menjadi fokus adalah pembenahan rantai pasok produk yang dikonsumsi wisatawan.

Bacaan Lainnya
banner 300250

Menjawab kebutuhan tersebut, Eco Tourism Bali bersama konsorsium ACT! Project memperkuat kolaborasi guna memastikan berbagai komoditas utama yang disajikan di hotel dan restoran, seperti kopi, kakao, teh, hingga minyak sawit, berasal dari praktik produksi yang bertanggung jawab dan tidak berkontribusi terhadap deforestasi.

Team Lead ACT! Project, Margareth Meutia, mengatakan bahwa tingginya kesadaran konsumen harus diiringi langkah nyata yang melibatkan seluruh rantai nilai, mulai dari produsen hingga konsumen akhir.

“Hasil riset kami menunjukkan bahwa 92 persen konsumen memiliki kesadaran lingkungan yang kuat. Sejalan dengan meningkatnya permintaan terhadap produk berkelanjutan, kami ingin mempercepat konsumsi yang bertanggung jawab, memastikan komoditas tidak ditanam di kawasan rawan deforestasi, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani lokal,” ujar Margareth.

Upaya transformasi menuju pariwisata regeneratif juga mendapat dukungan dari pelaku industri hospitalitas. Salah satunya datang dari The Meru Sanur yang berkomitmen mengambil peran dalam mendorong perubahan jangka panjang bagi sektor pariwisata Bali melalui penyelenggaraan The Meru Eco Tourism Week.

General Manager The Meru Sanur, Ed Brea, menegaskan bahwa keterlibatan pihaknya merupakan bentuk dukungan nyata terhadap pengembangan pariwisata berkelanjutan dan regeneratif di Pulau Dewata.

“Kami percaya kegiatan ini dapat menginspirasi lahirnya berbagai gagasan bermakna serta mempercepat aksi kolektif untuk mewujudkan masa depan yang lebih berkelanjutan bagi Bali maupun Indonesia,” kata Ed Brea.

Sementara itu, Co-Founder Eco Tourism Bali, Rahmi Fajar Harini, menilai bahwa konsep pariwisata regeneratif tidak cukup hanya diterapkan pada aspek operasional hotel. Menurutnya, perubahan yang sesungguhnya harus dimulai dari sistem rantai pasok yang lebih bertanggung jawab.

“Pariwisata regeneratif tidak dapat bertumpu hanya pada operasional hotel. Transformasi harus dimulai dari rantai pasok yang berkelanjutan sehingga setiap produk yang dikonsumsi wisatawan dapat memberikan manfaat nyata bagi lingkungan sekaligus mendukung petani lokal,” jelas Rahmi.

Melalui pendekatan yang lebih terintegrasi, peningkatan kesadaran wisatawan terhadap lingkungan diharapkan mampu memberikan dampak positif yang lebih luas. Selain mendorong perdagangan yang adil bagi petani, inisiatif ini juga berkontribusi pada perlindungan habitat satwa liar yang terancam akibat pembukaan lahan ilegal serta mendukung upaya mitigasi perubahan iklim melalui pelestarian kawasan hutan.

 

Kolaborasi tersebut diharapkan menjadi langkah penting dalam membawa industri hospitalitas Indonesia menuju era nature-positive tourism, yakni model pariwisata yang tidak hanya meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan, tetapi juga berkontribusi aktif dalam menjaga dan memulihkan kelestarian alam. Dengan demikian, aktivitas wisata dan konsumsi di Bali dapat menjadi bagian dari solusi bagi keberlanjutan bumi. (red/ich)

banner 728x90

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses