Mangupuranews – DENPASAR, Kawan Alam Indonesia resmi menggandeng pengusaha Gusti Ngurah Anom (Ajik Krisna) dan Lanud I Gusti Ngurah Rai dalam penguatan konservasi keanekaragaman hayati Bali, Kamis (24/9/2026). Kolaborasi ini menyasar penyelamatan ekosistem berbasis ekonomi hijau di Bali Utara.

​Kerja sama lintas sektor ini membedah persoalan klasik gerakan lingkungan di Pulau Dewata yang kerap berhenti sebatas seremoni penanaman tanpa pemeliharaan terukur. Melalui integrasi sektor privat, masyarakat sipil, dan militer, inisiatif ini menargetkan penyelamatan spesies kunci sekaligus membuka akses ekonomi bagi warga lokal.

Menembus Batas Seremoni: Mengapa Ficus dan Jalak Bali Jadi Kunci?

​Selama ini, upaya pemulihan lingkungan di Bali kerap menghadapi tantangan ketimpangan ruang hijau serta minimnya kelangsungan hidup bibit pohon pascapenanam. Kolaborasi baru ini memprioritaskan pemulihan dua elemen vital ekologis, yakni kelompok pohon beringin (Ficus) dan Jalak Bali (Curik Bali).

Delegasi Kawan Alam Indonesia bersama pengusaha Gusti Ngurah Anom (Ajik Krisna) dan jajaran Lanud I Gusti Ngurah Rai berdiskusi dalam pertemuan koordinasi di Denpasar, Bali. (Foto: Dok. Kawan Alam Indonesia)

Anggota Dewan Penasehat Kawan Alam Indonesia, Suyanto, menegaskan perlunya perubahan cara pandang dalam kerja pemulihan alam.

​”Konservasi tidak boleh berhenti pada seremoni penanaman. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana pohon yang ditanam dapat tumbuh, ekosistemnya terjaga, masyarakat memperoleh manfaat, dan kawasan tersebut memiliki nilai edukasi bagi generasi berikutnya,” tegas Suyanto.

​Fokus program ini mencakup beberapa agenda teknis:

  • Restorasi Pohon Ficus: Memulihkan beringin sebagai penjaga cadangan air tanah, penyedia pakan satwa liar, serta simpul nilai kultural masyarakat Bali.
  • Perlindungan Jalak Bali: Menyiapkan habitat aman di alam terbuka yang terintegrasi dengan edukasi serta standar ilmiah konservasi satwa langka.
  • Integrasi Sedekah Bumi: Memastikan setiap bibit yang ditanam memiliki skema pengawasan berkala hingga terbentuk kanopi hutan yang mandiri.

​Suyanto menambahkan, pendekatan berbasis ekosistem ini sengaja dipilih agar dampak pemulihan lingkungan berjalan beriringan dengan nilai kultural lokal. Dengan demikian, kawasan yang terbangun tidak hanya menjadi benteng ekologis, tetapi juga laboratorium alam yang fungsional bagi edukasi publik lintas generasi.

​”Kita ingin membangun cara pandang bahwa konservasi bukan sekadar menanam pohon, tetapi bagaimana membangun ruang hidup yang sehat bagi berbagai unsur ekosistem. Karena itu, Ficus dan Curik Bali dapat menjadi bagian dari narasi besar konservasi keanekaragaman hayati di Bali,” jelas Suyanto.

Mengurai Ketimpangan Ekonomi Lewat Lahan Hijau Bali Utara

​Ketimpangan pembangunan antara wilayah selatan dan utara Bali selama ini memicu eksploitasi alam yang tidak merata. Ajik Krisna merespons celah tersebut dengan menyediakan lahan pribadinya di Bali Utara guna dijadikan zona konservasi produktif.

Pengusaha Gusti Ngurah Anom atau Ajik Krisna (tengah berkaus putih) menjelaskan potensi pemanfaatan lahan pribadinya kepada jajaran Lanud I Gusti Ngurah Rai dan delegasi Kawan Alam Indonesia dalam pertemuan di Denpasar, Bali. (Foto: Dok. Kawan Alam Indonesia)

Founder Krisna Holding Company tersebut memproyeksikan kawasan ini sebagai kombinasi cagar alam mini dan destinasi wisata lingkungan.

​”Saya ingin lahan ini nantinya bukan hanya menjadi tempat menanam pohon. Kita ingin membuat kawasan yang hijau, asri, bisa menjadi tempat belajar tentang alam, dan kalau dikelola dengan baik juga bisa memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar,” papar Ajik Krisna.

​Model pemberdayaan yang digagas meliputi:

  • ​Pembukaan lapangan kerja baru dalam pengelolaan pembibitan dan pemeliharaan vegetasi lokal.
  • ​Fasilitas agrowisata dan riset alam yang melibatkan masyarakat sekitar secara langsung.
  • ​Jalur distribusi produk ekonomi hijau berbasis potensi desa setempat.

Sinergi Militer dan Lingkungan: Menjaga Kedaulatan Sumber Daya

​Keterlibatan pangkalan militer membawa dimensi baru dalam penanganan krisis ekologis daerah. Komandan Lanud I Gusti Ngurah Rai, Kolonel Pnb David Dwi Martin Warginanto, memandang kerusakan lingkungan sebagai ancaman riil terhadap ketahanan teritorial.

Komandan Lanud I Gusti Ngurah Rai Kolonel Pnb David Dwi Martin Warginanto memaparkan konsep sinergi ketahanan lingkungan saat berdiskusi bersama pengusaha Gusti Ngurah Anom (Ajik Krisna) dan tim Kawan Alam Indonesia di Denpasar, Bali. (Foto: Dok. Kawan Alam Indonesia).

Langkah ini diselaraskan langsung dengan Peraturan Panglima TNI Nomor 2 Tahun 2025 mengenai Unit Produksi Ketahanan Pangan di Lingkungan TNI.

​”Ketahanan nasional tidak hanya dibangun melalui aspek pertahanan dan keamanan, tetapi juga melalui kemampuan bangsa dalam menjaga sumber daya alam dan lingkungan hidup. Karena itu, upaya konservasi seperti perlindungan keanekaragaman hayati, pemulihan ruang hijau, serta pelibatan masyarakat merupakan bagian penting dari membangun ketahanan yang berkelanjutan,” jelas Danlanud.

​Pendekatan multi-heliks ini diposisikan Ketua Umum Kawan Alam Indonesia, Henny Paula Sitohang, sebagai solusi jangka panjang atas degradasi ekosistem pulau. Melalui tata kelola ilmiah dan dukungan regulasi ketahanan pangan, proyek di Bali Utara ini ditargetkan menjadi cetak biru pemulihan ekosistem yang mandiri secara finansial. (editor: brv)