Mangupuranews – BADUNG, Memaknai nilai Sumpah Pemuda ke-98 pada 28 Oktober 2026, Pakarang Adat Kamanunggal bersama Yayasan Tri Hita Karana Jambangan menyerukan gerakan pelestarian seni, adat, dan tradisi Nusantara guna membentengi identitas bangsa di tengah arus modernisasi.
Peringatan Kongres Pemuda II 1928 yang menyatukan beragam elemen kedaerahan dinilai menghadapi tantangan baru di era digital. Arus globalisasi perlahan mengikis kepedulian generasi muda terhadap akar tradisi, sehingga ikrar persatuan kini dituntut mewujud dalam tindakan nyata menjaga taksu kebudayaan lokal.
Revitalisasi Semangat 1928 Lewat Filosofi Tri Hita Karana
Sumpah Pemuda membuktikan bahwa keberagaman organisasi pergerakan, dari Jong Java hingga Pemuda Kaum Betawi, mampu menyatu dalam cita-cita kebangsaan. Di era kekinian, semangat kesatuan tersebut diintegrasikan dengan kearifan lokal Bali untuk menjawab persoalan sosial dan lingkungan.
Ketua Dewan Pembina Yayasan Tri Hita Karana Jambangan (YTHKJ), I Made Wiraguna, menegaskan pentingnya menempatkan pelestarian tradisi sebagai bentuk pengabdian suci masyarakat.
”Seni, budaya, adat, dan tradisi adalah identitas bangsa yang memiliki taksu dan jiwa hidup. Di momen Sumpah Pemuda ini, tugas generasi muda bukan hanya merawat warisan masa lalu, tetapi memperkuatnya dengan perubahan yang kekal bagi peradaban. Berlandaskan prinsip Bakti, Sakti, Mukti serta keseimbangan Tri Hita Karana—hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam, dan manusia dengan sesama—kita wujudkan gerakan nyata untuk kemanusiaan, lingkungan hidup, dan kesejahteraan bersama,” tutur I Made Wiraguna.
Pria asal Desa Mengwi yang akrab disapa Bli Denok tersebut memandang simbol pusaka dan tradisi Nusantara, seperti Pakarang Adat, sebagai representasi daya tahan moral pemuda dalam memelihara keseimbangan kosmis.

Tantangan Generasi Muda: Menjaga Relevansi Adat dan Lingkungan
Merawat nilai kebangsaan hari ini tidak lagi berbicara soal perjuangan fisik, melainkan konsistensi menjaga keselarasan sosial. Berlandaskan kerangka Tri Hita Karana, generasi muda dihadapkan pada tiga pilar tanggung jawab:
- Parahyangan (Hubungan dengan Tuhan): Memelihara kesucian budi pekerti dan ketaatan spiritual melalui prinsip Ngayah Pinaka Yadnya.
- Palemahan (Hubungan dengan Alam): Menggerakkan konservasi lingkungan hidup secara konsisten untuk menghadapi degradasi alam daerah.
- Pawongan (Hubungan Antarsesama): Menumbuhkan kesetiakawanan sosial dan pemberdayaan ekonomi kreatif berbasis komunitas lokal.
Penguatan karakter pemuda ini memerlukan payung kelembagaan yang transparan dan terukur agar dampaknya berkelanjutan. Melalui legalitas resmi kemasyarakatan yang berpusat di Mengwi, kolaborasi kepemudaan ini diarahkan untuk mencetak sumber daya manusia berdaya saing tinggi tanpa tercerabut dari akar adat istiadatnya. (editor: brv)






Tinggalkan Balasan