MANGUPURANEWS – TABANAN, Di tengah isu yang menyebut pariwisata Bali tengah sepi, Daya Tarik Wisata (DTW) Ulun Danu Beratan justru menunjukkan performa berlawanan. Selama libur Natal dan Tahun Baru (Nataru), destinasi ikonik di kawasan Candi Kuning, Kabupaten Tabanan ini mengalami lonjakan kunjungan wisatawan secara signifikan, baik dari dalam negeri maupun mancanegara.
Peningkatan jumlah kunjungan mulai terasa sejak 20 Desember hingga 26 Desember 2025. Pada puncak liburan, tepatnya 26 Desember 2025, jumlah wisatawan domestik yang biasanya berada di kisaran 400–500 orang per hari melonjak drastis hingga mencapai 1.800 orang per hari.
Kepala Divisi Humas dan Pemasaran DTW Ulun Danu Beratan, I Made Sukarata, SE., menyampaikan bahwa lonjakan tersebut menjadi indikator kuat tingginya minat wisatawan terhadap Ulun Danu Beratan, terutama saat momentum libur panjang.
“Pada hari normal, kunjungan wisatawan domestik berada di angka 400 sampai 500 orang per hari. Namun selama libur Nataru, jumlahnya melonjak hingga sekitar 1.800 orang per hari, khususnya pada 26 Desember 2025,” ungkapnya, Sabtu (27/12/2025).
Ia menjelaskan, wisatawan domestik yang berkunjung didominasi dari wilayah Surabaya, Jakarta, Jawa Tengah, dan Sumatera. Sementara itu, tren kunjungan wisatawan mancanegara juga menunjukkan peningkatan signifikan. Saat ini, jumlah wisatawan asing tercatat stabil di kisaran 600–700 orang per hari, meningkat hampir dua kali lipat dibanding hari biasa.
“Kunjungan wisatawan asing sebelumnya rata-rata 300 sampai 400 orang per hari. Sekarang meningkat menjadi sekitar 600 hingga 700 orang per hari,” jelasnya.
Lebih lanjut, Sukarata menyebutkan bahwa wisatawan mancanegara yang datang masih didominasi oleh wisatawan asal India, disusul pengunjung dari Eropa dan Australia.
Untuk menjaga daya tarik sekaligus meningkatkan kenyamanan pengunjung selama libur Nataru, pengelola DTW Ulun Danu Beratan secara konsisten menghadirkan berbagai pagelaran seni dan budaya Bali. Pertunjukan seni tradisional tersebut disuguhkan secara gratis bagi wisatawan.
“Selama libur Nataru, kami menampilkan seni budaya Bali seperti tari-tarian yang tergabung dalam Gebog Satak Ulun Danu Beratan. Selain itu, juga ada pertunjukan tari kecak dan barong pada Minggu pertama dan Minggu terakhir, yang disajikan gratis bagi pengunjung,” terangnya.
Tak hanya itu, keterlibatan 20 desa adat di sekitar kawasan turut memperkaya atraksi wisata dengan menampilkan tarian maskot khas masing-masing desa adat.
“Inilah yang menjadi kekuatan dan keunikan DTW Ulun Danu Beratan dalam menunjang peningkatan jumlah kunjungan wisatawan,” ujarnya.
Sebagai bagian dari strategi promosi dan apresiasi, pengelola juga menggelar kegiatan Open House bersama travel agent, sopir pariwisata, dan pemandu wisata. Kegiatan tersebut sekaligus memperkenalkan lebih jauh ragam kesenian, busana adat Bali, serta spot-spot eksotik yang ada di kawasan DTW Ulun Danu Beratan.
Dengan berbagai strategi kolaboratif berbasis budaya tersebut, Made Sukarata berharap tren positif kunjungan wisatawan dapat terus terjaga, tidak hanya selama libur Nataru, tetapi juga dalam jangka panjang. (red)
























































