Mangupuranews – BANGLI, Tutur Ratu Daha Tua mengungkap peran sakral Pucak Tegeh Kahuripan di Gunung Wangun Urip, Bangli, sebagai poros tata kelola air dan cikal bakal lahirnya peradaban subak di Bali sejak era purbakala.

​Narasi lisan (sastra tan patulis) ini kini diangkat kembali untuk memperkuat kesadaran pelestarian sumber daya air Bangli dalam bingkai visi Sad Kerthi Jagat Bali.

​Pemerhati sastra tutur Bali, Jro Somya, menegaskan bahwa Bangli memegang mandat spiritual sekaligus ekologis paling vital bagi kelangsungan hidup pulau ini.

​”Secara tutur lisan, Ratu Daha Tua adalah Catur Purusa keturunan Sang Hyang Pasupati yang berstana di Gunung Wangun Urip. Beliau berwujud perempuan tetapi berstatus Purusa karena Nyukla Brahmacari atau tidak menikah,” kata Jro Somya saat ditemui di Bangli, beberapa waktu lalu.

​Nama Daha Nu inilah yang menurutnya disederhanakan masyarakat luas secara fonetis menjadi kata ‘Danu’.

​Poros Kasuakan dan Pusering Jagat

​Pucak Penulisan bukan sekadar tempat pemujaan, melainkan episentrum regulasi pembagian air (kasuakan) masa lampau. Di bawah Pucak Tegeh, terdapat Palinggih Ratu Gede Penyarikan yang menjadi tempat persidangan adat untuk memutus perkara pembagian air.

​Pola aliran air purba dari Gedong Puser Tasik di Gunung Wangun Urip terbagi secara presisi ke empat penjuru:

  • ​Bali Selatan: Dialirkan melintasi Tukad Ayung, berlanjut ke Tukad Badung hingga Karang Suwung.
  • ​Bali Utara: Mengalir menuju Tukad Daya hingga bermuara di Bungkulan.
  • ​Bali Timur: Disalurkan melalui Tukad Gamongan dan Tukad Kutuh.
  • ​Bali Barat: Dihubungkan secara hidrologis dengan pasemetonan Batukaru, Puncak Mangu, dan Puncak Sari.

​Sistem distribusi ini melahirkan pranata penjaga hutan dan hulu yang dikenal dengan Gebog Domas (terbagi dalam empat Gebog Satak: Sukawana, Kintamani, Selulung, dan Bantang), serta Dasa Desa pemangku Meru Bale Agung Sukawana.

​Diplomasi Air Ratu Daha Tua

​Jro Somya mengisahkan, air dari hulu kemudian ditampung di Segara Gunung Lebah (Danau Batur saat ini). Dari titik ini, Ida malih rupa (menyamar) menjadi perempuan berpenampilan kumuh yang berkeliling menjajakan air.

​”Kisah penyamaran Ida sebagai penjual air ini sesungguhnya diplomasi ekologi leluhur. Ketika warga Munti Gunung dan Tianyar menolak membeli, wilayah itu mengalami kekeringan panjang, berbeda dengan Les Penuktukan dan Tejakula yang menerimanya dengan ikhlas,” ujar Jro Somya.

Penolakan dan penerimaan tersebut meninggalkan jejak hukum adat berupa kewajiban ritual (metatadan) berkala dari desa-desa pesisir ke Bale Agung Sukawana hingga kini.

​Ancaman Krisis Air dan Hilangnya Apresiasi Hulu

​Data tutur ini menyiratkan kritik mendalam terhadap perlakuan Bali modern terhadap Bangli. Kawasan hulu yang selama berabad-abad menjaga resapan air kerap ditinggalkan sendirian saat menghadapi deforestasi dan sedimentasi danau.

​Hulu Bangli menanggung beban ekologis, sementara hilir menikmati gemerlap ekonomi pariwisata. Jika kesakralan Gunung Wangun Urip runtuh, ancaman krisis air nyata membayangi seluruh Bali.

​Mengembalikan kesadaran atas mandat Ratu Daha Tua bukan semata bernostalgia dengan mitologi, melainkan langkah penyelamatan ruang hidup Bali sesuai prinsip Danu Kerthi. (editor: brv)