MANGUPURANEWS – BADUNG, Ada perkembangan terbaru yang mengejutkan dalam perselisihan bisnis yang memanas seputar pembangunan Marina Bay City di Lombok.
Seiring meningkatnya pertanyaan tentang dana investor yang hilang, ancaman, dugaan intimidasi, dan orang misterius yang mengaku mewakili Adrian Campbell memperdalam kontroversi seputar kegagalan Marina Bay City.
Menurut Jamie McIntyre, setelah adanya preman lokal yang mengaku mewakili Adrian Campbell beberapa kali datang dalam beberapa hari terakhir ke proyek yang sedang dikembangkan oleh McIntyre di Bali dan yang tidak terkait dengan proyek Marina Bay City yang ada di Lombok ataupun perusahaan pengembangnya, McIntyre juga menerima pesan WhatsApp dari Adrian Campbell yang mengatakan “Jangan lupa tersenyum. Aku akan menikmati apa yang akan terjadi selanjutnya. Sandiwara Anda telah berakhir dengan kehancuran,” bunyi pesannya

Tak lama kemudian, Mr. McIntyre menerima serangkaian pesan WhatsApp yang dikirim menggunakan akun yang terdaftar di nomor telepon Australia +61 417 095 696 dengan nama “Jay Dee”, tetapi tampaknya berasal dari Thailand, tempat Adrian Campbell sekarang tinggal. Pesan-pesan tersebut merujuk pada dugaan langkah-langkah yang diambil untuk menggunakan “anggota geng motor” yang dikenal sebagai “Black Shirts” untuk melakukan tindakan kekerasan terhadap Bapak McIntyre dan menyertakan pernyataan berikut dari pengirim:
Pesan dari Jay Dee menyatakan, “Para Baju Hitam akan datang untukmu. Mereka kelompok yang ramah. Akuntabilitas adalah prioritas utama mereka. Aku hanya memberi tahumu… Ini hampir waktunya…Yah, aku hanya ingin memberitahumu bahwa akan ada ketukan di pintu. Tapi aku yakin kau bisa merasakannya datangSetelah pesan itu, Mr. McIntyre juga dapat pesan lain dari Jay Dee, yang sebelumnya diposting oleh orang lain di grup WhatsApp Investor Update yang tampaknya dibuat oleh Adrian Campbell.Postingan tersebut, yang diteruskan ke Mr. McIntyre, secara implisit merujuk kepada Mr. McIntyre oleh orang yang mempostingnya dan menyatakan: “Saya ingin mengumpulkan beberapa preman pengendara motor lokal, menangkapnya (Jamie McIntyre), mengambil paspornya, mematahkan kedua tangannya, dan memberinya pesan jangan main dengan uang investor.” Pesan itu juga menunjukkan komentar dari seseorang bernama “A” yang mengatakan, “Ada banyak anggota geng motor Australia di Bali,” demikian bunyi postingan di grup tersebutMr. McIntyre membalas pesan Jay Dees hanya dengan mengatakan: “Mengapa tidak mengirimkan yang pakai celana pendek pink, yang bisanya untuk tipe yang “seolah-olah maskulin?,” daripada mengirim kemeja hitam dan berpikir ini masih masa sekolah menengah dan Anda dapat mengintimidasi orang lain agar tidak mengungkap telah mengambil dana investor sebesar $5 juta”, kemudian menambahkan “Langkah hukum Adrian tampaknya tidak begitu kuat menurut saya jika dia harus menggunakan preman untuk mengetuk pintu rumah orang.
Izinkan saya memperjelas. Tidak ada yang akan menghentikan pihak berwenang di Australia untuk menangkap Adrian atas penipuannya dan saya membantu mereka. … Apakah ini sekolah menengah? Sungguh lelucon,” balas Mr. McIntyMenurut Mr. McIntyre, strategi intimidasi jarak jauh yang kekanak-kanakan ini dimulai setelah adanya permintaan formal berulang kali diajukan oleh tim hukumnya di Indonesia agar para eksekutif Kinnara memberikan laporan rekening bank dan catatan keuangan yang berkaitan dengan dana investor yang terhubung dengan proyek tersebut.Permintaan resmi tersebut dilaporkan dikirim ke Adrian Campbell, pengacara Mr. Campbell di Jakarta, dan Hilton Wood – Kepala Bagian Keuangan Kinnara.
Alih-alih menerima bukti dokumen yang diminta secara sah, Adrian Campbell justru menerima ancaman yang disebutkan di atas dan campur tangan berkelanjutan lainnya dari Adrian Campbell dalam urusan bisnis perusahaan Mr. McIntyre sendiri di Bali, yang semuanya merupakan tindakan yang menimbulkan pertanyaan serius tentang perilaku pihak-pihak yang terlibat.
Sengketa Transparansi Keuangan
Seperti diketahui, sengketa ini bermula dari akibat perpecahan kontroversial antara McIntyre dan Campbell di perusahaan yang didirikan untuk mengembangkan proyek Marina Bay City di Lombok, setelah tuduhan tak berdasar oleh Adrian Campbell tentang penyalahgunaan dan/atau penggelapan dana investor yang diminta tanpa wewenang yang sah oleh Kinnara di Australia dan yang dibayarkan atas instruksi Kinnara ke rekening bank Australia yang dikendalikan oleh Kinnara, tetapi sebagian besar, menurut Mr. McIntyre, tidak pernah ditransfer oleh Kinnara atau Adrian Campbell ke PT. Marina Bay Investments, perusahaan yang didirikan sebagai pengembang proyek tersebut dan yang hingga saat ini dikendalikan oleh Direktur Indonesia yang ditunjuk melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), bukan dikendalikan oleh Jamie McIntyre.
Melalui tim hukumnya, Mr. McIntyre mengatakan bahwa jutaan dolar dana investor yang dibayarkan kepada Kinnara masih belum dapat dipertanggungjawabkan dan bahwa upaya meminta sudah berulang-kali dilakukan oleh pihak Mr. McIntyre untuk mendapatkan dokumentasi keuangan dari Adrian Campbell tapi tidak dihiraukan.
Dokumen yang diminta meliputi: • Laporan rekening bank
• Catatan rekening investor
• Dokumentasi transfer bank
• Riwayat transaksi dan
• Dokumen keuangan terkait lainnya.
Mr. McIntyre menegaskan, bahwa sejumlah pihak yang mengikuti perkembangan perselisihan ini mengatakan bahwa memberikan catatan-catatan yang diminta tersebut akan menjadi cara termudah untuk menyelesaikan masalah. Sebaliknya, insiden intimidasi yang diduga dilakukan justru akan menjadi sorotan publik.
Misalnya, salah satu sumber yang mengetahui masalah ini mengatakan bahwa permintaan tersebut berupa permintaan Laporan keuangan perusahaan telah diajukan beberapa kali, dan menambahkan bahwa “menyediakan catatan yang diminta akan menjadi cara terbaik untuk menyelesaikan semua masalah yang belum terselesaikan, tetapi taktik intimidasi terbaru yang diduga dilakukan tampaknya dimotivasi oleh keinginan untuk mengalihkan perhatian investor dari masalah inti tentang ke mana jutaan dolar yang dibayarkan kepada Kinnara oleh investor berada, yang pada gilirannya menunjukkan tidak adanya niat tulus dari pihak Adrian Campbell untuk menyelesaikan masalah yang belum terselesaikan sehingga investor tidak dirugikan,” ungkapnya.

Tuduhan Yang Serius
Jika tuduhan tersebut terbukti, pengamat hukum mengatakan bahwa perilaku tersebut berpotensi meningkatkan perselisihan di luar litigasi perdata menjadi penyelidikan kriminal, terutama jika intimidasi digunakan sehubungan dengan perselisihan keuangan.
Pengamat mencatat bahwa perselisihan antar perusahaan adalah hal biasa dalam proyek pengembangan besar, tetapi mengirim individu untuk mengancam ke kediaman pihak lawan akan meningkatkan potensi pelanggaran hukum yang lebih serius jika tuduhan tersebut terbukti.
Investor Menuntut Kepastian
Kontroversi ini juga telah memicu kekhawatiran yang semakin besar di kalangan investor yang mencari kejelasan tentang pengelolaan keuangan dana yang awalnya dialokasikan untuk proyek pengembangan terkait dengan usaha Marina Bay Lombok.
Banyak pihak, termasuk Jamie McIntyre, mengatakan masalah ini dapat diselesaikan dengan cepat melalui pengungkapan penuh catatan keuangan. Namun, sampai catatan tersebut diberikan, perselisihan antara para pihak tampaknya akan memburuk. Bahkan, meskipun Adrian Campbell baru-baru ini diundang saat berada di Bali untuk mengikuti pertemuan yang diusulkan dengan tujuan mencapai kesepakatan komersial yang akan memastikan semua investor, termasuk mereka yang sudah bekerjasama oleh Kinnara tanpa wewenang yang sah, pada akhirnya menerima apa yang dijanjikan.
Untuk saat ini, pertanyaan utama tetap sama dengan pertanyaan yang memicu perselisihan, dimana laporan rekening bank dan di mana uangnya? Hal-hal tersebut tampaknya hanya diketahui oleh Adrian Campbell dan menurut mereka yang mengetahui masalah ini, sejauh ini Mr. Campbell menolak untuk memberikan laporan penuh sebagaimana yang semestinya.

Berdasarkan pencarian yang dilakukan di Australia oleh Jamie McIntyre hari ini, Jaxson Keith Dilger tampaknya adalah seorang pria Australia yang diyakini lahir pada Juli 1970, dengan catatan yang menghubungkannya dengan Scarborough, Australia Barat (kode pos 6019) termasuk alamat di 81 Sackville Terrace, Scarborough dan nomor ponsel 0417095696, orang ini yang mencoba mengancam Jamie McIntyre melalui pesan WhatsApp beberapa hari yang lalu.
Menurut tim hukum Jamie McIntyre, mereka telah menerima hasil investigasi profesional yang dilakukan di Australia mengenai identitas orang yang mengirim pesan-pesan tersebut di atas menggunakan nama profil “Jay Dee”. Kami diberitahu bahwa, secara singkat, ini adalah hasil investigasi tersebut yang tidak diubah.(*)





















































