MANGUPURANEWS – BADUNG, Perumdam Tirta Mangutama Badung pada Senin (17/11/2025) mengadakan pertemuan dengan puluhan jurnalis dari berbagai macam media. Kegiatan ini menjadi ruang bagi direksi untuk menyampaikan perkembangan kinerja lembaga selama lima tahun terakhir sekaligus memberikan ucapan selamat menyambut Hari Raya Galungan dan Kuningan. Acara digelar di lantai 3 kantor Perumdam yang berlokasi di Kapal, Badung.
Dalam paparannya, Direktur Teknik Made Suarsa menyoroti urgensi pengolahan air laut untuk memenuhi kebutuhan air bersih di wilayah Kuta Selatan. Ia menjelaskan bahwa pasokan air baku Perumdam saat ini hanya 800 liter per detik, ditambah rencana tambahan 300 liter per detik dari Tukad Mati yang akan disalurkan melalui jalur pipa bawah laut. Pengoptimalan pasokan dari Tegehsari juga tengah dilakukan dan ditargetkan pada pertengahan Desember sudah dapat mengaliri reservoir Ungasan. Namun, tambahan tersebut diperkirakan tidak akan mampu menopang kebutuhan hingga lima tahun mendatang karena pertumbuhan wilayah yang sangat pesat.
Salah satu langkah strategis yang tengah digodok adalah pemanfaatan teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO), yaitu metode desalinasi untuk mengubah air laut menjadi air tawar. Teknologi ini, menurut Direksi, telah dipresentasikan secara teknis mulai dari aspek perpipaan hingga segmentasi calon pelanggan. Proses pembahasan kini memasuki tahap penentuan skema distribusi dan kolaborasi yang akan dilibatkan.
Direktur Utama I Wayan Suyasa menegaskan bahwa sumber air baku menjadi tantangan terbesar, terutama bagi kebutuhan di kawasan Badung Selatan termasuk Canggu. Jika rencana pembangunan jalan lingkar selatan terealisasi, kebutuhan air dipastikan melonjak drastis. Karena itu, Perumdam memprioritaskan upaya menghadirkan sumber air alternatif yang lebih stabil melalui SWRO. Dengan mengandalkan air laut yang tidak pernah habis, kualitas air hasil proses ini bahkan dapat mencapai standar air minum.
Suyasa juga mengungkapkan bahwa biaya produksi air melalui SWRO tergolong tinggi sehingga distribusinya direncanakan menggunakan jaringan khusus untuk sektor usaha. Pelanggan rumah tangga tetap akan diprioritaskan mendapatkan air permukaan agar tarif tetap terjangkau. Dari total air yang diproses SWRO, hanya sekitar 30–40 persen yang menjadi air baku tergantung kondisi kekentalan air laut, sehingga efisiensinya sangat perlu dihitung matang.
Sementara itu, Made Suarsa turut membagikan hasil kunjungannya ke Gili Trawangan yang lebih dulu menerapkan teknologi SWRO. Ia menjelaskan bahwa skema kerja di sana melibatkan pihak ketiga yang mengelola jaringan sekaligus menyediakan pelanggan baru, sedangkan PDAM setempat hanya mengambil keuntungan dari selisih harga jual. Namun, ia menegaskan bahwa situasi di Badung tidak identik dengan Gili Trawangan sehingga pola kerja sama harus disesuaikan dengan kebutuhan daerah dan kapasitas Perumdam.
Jajaran direksi lain, seperti Direktur Umum I Made Sugita bersama para kepala bagian, turut hadir mendampingi seluruh rangkaian kegiatan gathering ini. Pertemuan tersebut juga menjadi ajang mempererat komunikasi antara Perumdam Tirta Mangutama dan insan media sekaligus memaparkan langkah-langkah strategis perusahaan dalam menjaga ketersediaan air bersih bagi masyarakat Badung.
Rangkaian agenda ditutup dengan makan siang santai, lalu para media diajak around the office guna mengenal lebih jauh fasilitas serta aktivitas yang berlangsung di kantor. (red/ich)




















































