MANGUPURANEWS – BADUNG, Ketua Komisi II DPRD Badung, Made Sada, bertindak cepat menanggapi isu dugaan pemotongan upah pematung Taman Makotek di Desa Munggu yang sempat viral di media sosial. Pada Rabu (10/12/2025), ia memanggil seluruh pihak terkait, mulai dari Kepala Dinas Pariwisata Badung Nyoman Rudiartha, Direktur PT Genta Winangun Wayan Sarna, Koordinator Pematung I Nyoman Ardana, hingga para seniman yang terlibat.
Dalam pertemuan yang juga dihadiri anggota Komisi II, Wayan Edy Sanjaya dan IB Putra Manubawa, Made Sada menegaskan hasil konfrontasi tersebut menunjukkan tidak adanya pemotongan upah pematung.
“Setelah kami dengarkan semua pihak, tidak ditemukan adanya praktik pemotongan upah,” tegas politisi Demokrat asal Kuta itu.
Isu yang beredar sebelumnya menyebut bahwa pembayaran patung senilai Rp 500 juta hanya direalisasikan Rp 400 juta. Menanggapi hal tersebut, Made Sada menyatakan bahwa pembangunan Monumen Makotek memiliki pagu Rp 2,5 miliar lebih dengan realisasi anggaran Rp 2,412 miliar, dan seluruh proses berjalan sesuai perencanaan serta spesifikasi teknis.
Ia juga menjelaskan bahwa pekerjaan bernilai Rp 2,4 miliar tersebut tidak hanya mencakup patung, tetapi juga pembangunan panggung, gedung monumen, relief, jembatan, hingga lanskap. Pematung dipilih dari seniman asli Munggu untuk menjaga autentisitas budaya Makotek.
Monumen Makotek sendiri telah diresmikan pada 13 November dan diserahterimakan kepada Desa Munggu. “Semua pematung menegaskan telah menerima haknya sesuai tahapan pekerjaan. Pelunasan bahkan sudah dilakukan sebelum peresmian,” ujarnya.
Anggota Komisi II, Wayan Edy Sanjaya, memperkuat pernyataan tersebut. Ia memastikan bahwa nilai Rp 500 juta untuk pembuatan patung telah dibayar penuh pada 12 November 2025, sehari sebelum peresmian.
“Ini sudah jelas. Tidak ada pemotongan sebagaimana yang viral,” katanya.
Hal serupa disampaikan Direktur PT Genta Winangun, Wayan Sarna. Ia memastikan seluruh pekerja, baik pematung maupun tenaga pendukung lainnya, telah menerima upah tanpa ada pengurangan.
“Upah pekerja selalu kami prioritaskan. Semua sudah lunas,” ujarnya.
Koordinator pematung, I Nyoman Ardana, juga menegaskan hal yang sama. “Kami sudah menerima pembayaran penuh pada 12 November. Tidak ada kesulitan dalam pencairan dana, dan semua proses berjalan lancar sehingga patung dapat diselesaikan maksimal,” jelasnya.
Ardana menyebutkan bahwa proses pembuatan patung melibatkan 10 pematung, 5 tukang cat, dan 5 tukang batu, seluruhnya warga lokal Munggu. Seluruh tenaga tersebut telah menerima upah sesuai kesepakatan. (red/tim)
























































