MANGUPURANEWS – BADUNG, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) resmi menetapkan I Wayan Suyasa sebagai Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PSI Bali melalui pelantikan yang digelar di Kabupaten Badung, Sabtu (24/1/2026). Langkah ini menjadi bagian dari upaya partai memperkokoh struktur organisasi serta memperluas dukungan politik di Bali menjelang Pemilu 2029.
Prosesi pelantikan jajaran pengurus DPW dan DPD PSI se-Bali dipimpin langsung oleh Ketua Umum DPP PSI Kaesang Pangarep. Dalam kesempatan tersebut, Kaesang menyerahkan pataka partai kepada kepengurusan baru sebagai simbol amanah dan tanggung jawab kepemimpinan.
“Saya melantik saudara-saudara sebagai pengurus DPW dan DPD PSI se-Bali. Saya titipkan PSI di Pulau Bali kepada kepengurusan yang baru,” ujar Kaesang.
Dalam sambutannya, Kaesang juga menyinggung bergabungnya sejumlah kader Partai Golkar ke PSI, termasuk I Wayan Suyasa. Ia bahkan secara terbuka menyampaikan permohonan maaf kepada Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, atas dinamika politik tersebut.
“Saya juga mohon maaf kepada Pak Bahlil, karena banyak kader Golkar yang sekarang bergabung ke PSI,” kata Kaesang, yang disambut tepuk tangan para peserta acara.
Kaesang menegaskan, perpindahan kader merupakan bagian dari dinamika politik yang tidak dapat dihindari. Meski demikian, PSI tetap menjunjung tinggi etika politik dan menghormati seluruh partai.
Ia berharap kepengurusan PSI Bali mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Menurutnya, latar belakang pengurus yang berasal dari berbagai partai politik menjadi kekuatan dalam membangun organisasi yang inklusif dan solid.
Meski belum memiliki kekuatan besar di parlemen Bali, Kaesang menilai hal tersebut bukan hambatan untuk terus berkembang.
“Kita mungkin belum besar secara kursi, tapi kita harus besar dalam kerja dan keberpihakan kepada rakyat,” ujarnya.
Kaesang juga mengaitkan logo gajah PSI dengan sejarah Bali, khususnya dari wilayah Tabanan. Ia menilai hal tersebut menjadi simbol kuat bagi pertumbuhan partai di daerah. Target masuk empat besar pada Pemilu 2029 pun diyakini dapat diwujudkan.
Sementara itu, Ketua Harian DPP PSI Ahmad Ali menekankan pentingnya menjaga soliditas internal serta menghormati adat dan budaya lokal dalam menjalankan aktivitas politik di Bali.
“Persoalan adat dan budaya harus dijaga sejak awal. Jangan sampai terjadi kesalahpahaman yang dapat memicu polemik di masyarakat,” ujar Ahmad Ali.
Ia mengingatkan seluruh kader agar bersikap rendah hati dan mampu membangun komunikasi yang baik dengan masyarakat setempat.
Di sisi lain, I Wayan Suyasa menyatakan kesiapannya memimpin PSI Bali menghadapi kontestasi politik ke depan. Ia mengajak seluruh kader untuk memperkuat persatuan dan membangun kekuatan bersama.
“Kita punya semangat puputan, berjuang tanpa mundur. Selama belum menang, kita tidak boleh berhenti berusaha,” tegasnya.
Suyasa menegaskan bahwa keberhasilan partai tidak ditentukan oleh satu sosok, melainkan oleh kekompakan seluruh elemen organisasi.
“Saya tidak bisa bekerja sendiri. Tanpa kebersamaan, PSI tidak akan berkembang. Kita harus tumbuh bersama,” katanya.
Melalui kepengurusan baru ini, PSI Bali menargetkan penguatan struktur organisasi hingga tingkat akar rumput. Berbagai strategi politik juga disiapkan untuk meningkatkan elektabilitas dan memperluas dukungan publik sebagai bekal menghadapi Pemilu 2029 dan agenda nasional berikutnya. (red/ich)
























































